RADAR JOGJA DIGITAL – Banyak mitos dan rumor beredar terkait program KB khususnya alat kontrasepsi. Mayoritas adalah informasi yang salah lalu berkembang di masyarakat. Alhasil muncul ketakutan untuk menjalani program ini.

Kabid Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Dinas P3AP2KB Sleman Dwi Wiharyanti membeberkan satu persatu. Salah satu rumor yang beredar, darah haid yang tidak keluar setelah pasang implan akan menumpuk. Imbasnya menjadi darah kotor dalam tubuh.

Padahal, implan bekerja dengan mempengaruhi keadaan lendir dalam rahim dan juga pelepasan sel telur. Alhasil pasca penggunaan implan akan membuat haid terhenti (amenore). Dampak lain terkadang muncul bercak atau spotting.

Rumor lain tentang implant adalah menyebabkan banyaknya pendarahan. Faktanya, pemasangan implant hanya memanfaatkan sedikit pembuluh darah besar. Tepatnya dibawah kulit sehingga tidak banyak darah keluar. Sebelum pemasangan, calon peserta KB akan dibius lokal. Sehingga tak merasakan sakit.
“Haid yang terhenti itu tidak berbahaya. Proses haid berhenti karena pelepasan sel telur dihambat. Akhirnya tidak ada (sel telur) yang menempel di rahim dan tidak terjadi perlukaan pada dinding rahim yang menyebabkan haid,” jelasnya, Kamis (12/12).

Rumor tentang intrauterine device (IUD) bisa berpindah dari rahim ke organ tubuh lain. Kabar kabur yang beredar IUD bisa jalan-jalan sampai jantung bahkan otak. Faktanya IUD dipasang di rongga rahim yang tidak memiliki lubang.
“Faktanya untuk berpindah, suatu benda dalam tubuh memerlukan perantara aliran darah. IUD tidak mungkin berpindah keluar dari rongga rahim. Alat kontrasepsi ini hanya keluar melalui vagina atau bergeser disekitar rongga rahim,” ujarnya.

Selanjutnya, Vasektomi dirumorkan sama dengan tindakan kebiri organ kelamin pria. Faktanya tindakan yang dilakukan hanya menutup saluran sperma sisi kiri dan kanan. Walau menjalani vasektomi, produksi hormon testoteron berlangsung.
Tubektomi direpresentasikan dengan pengangkatan rahim. Faktanya tubektomi hanya memotong atau mengikat saluran telur. Dwi memastikan tidak pengangkatan rahim. Sehingga kaum perempuan tetap bisa haid jika menghendaki hamil lagi.

Selain itu, ada dua rumor yang membayangi alat kontrasepi suntik progrestin. Pertama, kontrasepsi ini menyebabkan rahim kering dan tidak subur. Kabar kabur kedua dapat menyebabkan kemandulan pada perempuan.
“Faktanya penggunaan alat suntik tidak menyebabkan rahim kering. Diperlukan waktu rata-rata 10 bulan setelah suntik terakhir agar kembali subur. Keterlambatan inilah yang kerap dianggap mitos mandul, padahal persepsi yang salah,” katanya.

Dua rumor turut menaungi pil KB kombinasi. Rumor pertama menyebutkan konsistensi konsumsi dapat menyebabkan penumpukan residu pil KB di badan. Rumor kedua, pil KB menyebabkan pertambahan dan penurunan berat badan.
Faktanya kandungan hormon dalam pil KB tetap tersekresi. Wujudnya melalui air seni maupun saat buang air besar. Mitos tentang berat badan juga terbantahkan. Faktanya perubahan berat badan adalah proses alami dalam tubuh.

Kontrasepsi kondom tak terlepas dari rumor miring. Beredar jika kondom dapat membuat seorang pria tak dapat ereksi atau impoten. Faktanya ada beberapa faktor yang menyebabkan impoten. Paling utama adalah kondisi fisik dan emosional diri.

Metode Amenore Laktasi (MAL) atau menyusui juga tak terlepas dari rumor. Rumornya metode ini tidak efektif mencegah kehamilan. Faktanya efektivitas MAL tergantung pada pengguna. Setidaknya ada tiga kriteria, tidak menstruasi, ASI ekslusif dan bayi berusia kurang dari enam bulan.
“Resiko terbesar kehamilan terjadi ketika perempuan tidak dapat memberikan ASI penuh atau mendekati penuh bagi bayinya. Kondisi psikis si ibu juga berpengaruh dalam MAL,” katanya. (dwi/tif)