DRAMA hukum berdasar kisah nyata ini bercerita tentang terkuaknya perusahaan kimia digdaya dalam menutupi efek-efek membahayakan kesehatan atas produk berbahan teflon-nya. Lepas menonton film ini cukup membuat kepikiran untuk mengurangi penggunaan alat-alat masak berbahan teflon.

Penguak kekejian ”konspirasi” perusahaan ini adalah seorang pengacara yang di masa naik daun kariernya tiba-tiba kantornya ”disatroni” peternak lokal tetangga nenek si pengacara. Kedatangannya guna meminta tolong untuk dapat menuntut ganti rugi atas kerusakan yang telah ditimbulkan oleh pembuangan limbah persh kimia digdaya terhadap usaha dan hidupnya.

Dari segi ceritanya film ini bisa dibilang dahsyat karena mengandung advokasi yang menyadarkan sekaligus reflektif. Sama juga sensasinya dengan menonton film berniatan serupa, katakanlah Erin Brockovich. Namun, sedikit kendala yang dirasa dalam menikmati alur film ini adalah terletak pada penataan tahap-tahap membangun konfliknya. Misal, adegan pertama film ini sebenarnya relevan terhadap bangunan keseluruhan cerita, tapi tak mendesak untuk direkonstruksi. Dari sini saja bisa menarik sedikit ide bahwa film ini punya persoalan efektivitas dalam penceritaan.

Selain itu, di beberapa adegannya dialog tersampaikan kurang efektif karena tak cukup berhasil membangun watak masing-masing karakter utamanya. Walau begitu, jalinan cerita penyibakan misteri hingga persidangannya pun tersampaikan runtut, bahkan kronologis. Beberapa periode terkesan kosong, karena memang saat tahun-tahun yang berlalu cepat itu tak ada kejadian yang perlu ikut diceritakan dalam durasi yang ringkas, sekitar dua jam.

Dngagn segala kekurangan yang disebutkan tadi, film ini tetap penting karena pesan dalam dialog terakhir yang disampaikan pada babak penutupnya. Itulah momen terkuat film ini. Satu klimaks berupa dialog sederhana yang cukup membuat penonton spontan sedikit tersadar bahwa manusia masih arogan. (ila)

*Penulis adalah penggemar film dalam negeri dan penikmat The Chemical Brothers yang bermukim di Jogja Utara.