SISTEM Among adalah cara pelaksanaan pendidikan di dalam proses belajar-mengajar dengan lebih menekankan ajaran kepemimpinan. Sistem among merupakan buah pikir dari Raden Mas Suwardi Suryaningrat atau yang kita kenal sebagai Ki Hajar Dewantara, bapak pendidikan dan pendiri Perguruan Taman Siswa.

Ki Hajar Dewantara yang mencetuskan sistem among di Taman Siswa. Dia menekankan guru dapat menjadi pamong bagi siswa sesuai dengan fase pertumbuhan dan perkembangan siswa. Di dalam sistem among ini ada beberapa hal yang harus di pelajari seorang pendidik dan juga biasa disebut trilogi pemimpinan.

Sistem Among mewajibkan pendidik(guru) melaksanakan prinsip-prinsip kepemimpinan sebagai berikut “Ing ngarso sung tulodo”, maksudnya di depan menjadi teladan. Kemudian “Ing madya mangun korso”, maksudnya di tengah-tengah mereka pendidik(guru) membangun kemauan. Ketiga, “Tut wurihandayani” yang artinya dari belakang pendidik (guru) memberi daya/kekuatan atau dorongan dan pengaruh yang baik ke arah kemandirian.

Sebagai guru yang mengajar SD (sekolah dasar), guru harus lebih mengaplikasikan “Ing ngarso sung tulodo”. Sebagai guru SD harus menjadi contoh yang baik bagi siswa-siswanya, karena seperti yang kita tahu karakter anak SD itu selain suka bermain mereka juga suka meniru apa yang dilakukan. Maka dari itu guru harus lebih menekan “Ing ngarso sung tulodo” karena akan menjadi contoh, dalam proses belajar mengajar kita benar-benar harus menjaga prilaku kita subijaksana mungkin.

Ki Hajar Dewantara menguraikan empat poin-poin lainnya yang dikenal dengan Asas-asas Tamansiswa 1922, termasuk perlu adanya demokratisasi dalam pengajaran agar tidak hanya lapisan atas saja yang terpelajar. Pemakaian metode among, suatu metode yang tidak menghendaki “paksaan-paksaan”, melainkan memberi “tuntutan” bagi hidup anak-anak agar dapat berkembang dengan subur dan selamat, baik lahir maupun batinnya.

Metode sistem among dapat dikatakan metode pembelajaran inovatif yang mampu mengembangkan jiwa merdeka siswa. Karena metode sistem among ini tidak hanya mengajarkan kepemimpinan tetapi juga memberikan kebebasan seluas-luasnya(namun harus tetap terkontrol) kepada siswa untuk mengembangkan minat dan bakatnya tanpa ada paksaan atau halangan.

Among mempunyai pengertian menjaga, membina, dan mendidik anak dengan kasih sayang. Lalu gurunya disebut pamong karena momong (mengasuh) yang mempunyai kepandaian dan pengalaman lebih dari yang diamong. Guru disebut pamong yang bertugas mendidik dan mengajar anak sepanjang waktu. Tujuan sistem among membangun anak didik menjadi manusia beriman dan bertakwa, merdeka lahir batin, budi pekerti luhur, cerdas dan berketerampilan, serta sehat jasmani rohani agar menjadi anggota masyarakat yang mandiri dan bertanggung jawab atas kesejahteraan tanah air serta manusia pada umumnya.

Dalam pelaksanaan pembelajaran, Ki Hajar Dewantara mengajarkan bahwa pelajaran berarti mendidik anak-anak akan menjadi manusia yang merdeka batinnya, merdeka fikirannya dan  merdeka tenaganya.

Cara mengajar dengan metode sistem among berarti mengajar dengan cara terbuka, kasih sayang, bebas, dan melindungi siswa dengan kesejukan dan kenyamanan pikiran. Teknik mengajarnya dengan cara bermain. Ki Hajar Dewantara sering menganjurkan para pamong untuk mengajak siswa sambil “bermain” dalam memberikan pelajarannya. Tentunya ini sangat cocok dan dianjurkan untuk diaplikasikan pada jenjang SD. (ila)

*Penulis merupakan mahasiswa PGSD Sarjanawiyata Tamansiswa