RADAR JOGJA – Jenang Bu Gesti di Pasar Lempuyangan Jogja seperti tak pernah lekang oleh zaman. Lokasinya memang sederhana, di dalam los pasar. Namun, para pelanggannya orang-orang top, seperti presiden.

“Iya dulu Pak Harto langganan kalau lagi di Gedung Agung,”  ujar Sugesti, nama lengkapnya.

Jenang ini sudah berjalan lebih dari tiga generasi. Bu Gesti mengatakan Presiden Ke-2 Soeharto saat masa-masa menjabat tidak ketinggalan memesan jenangnya saat ada kunjungan ke Jogja. Pak Harto memang tidak datang langsung tempat ke Bu Gesti jualan, tapi pesan diantar ke Istana Kepresidenan Gedung Agung.

Jenang yang kesukaan Pak Harto adalah jenang candil dan jenang campur. Karena menjadi favorit Pak Harto, kerap kali tempat itu disebut dengan Jenang Pak Harto. “Dulu saya sering ngantar ke Gedung Agung, sampai empat kuali besar. Beliau kalau pas di sana, pasti hubungi kami untuk pesan jenang,” ujarnya.

Selain Pak Harto, katanya, Megawati Soekarnoputri dan pihak Keraton Jogja juga beberapa kali memanggil jenang Bu Gesti. Bahkan, Sultan Hamengku Buwono X cukup sering membeli jenang ini saat ada mantu atau kegiatan tertentu di Keraton.

Jenang Bu Gesti sudah meramaikan kuliner di Jogja sejak tahun 1950-an. Saking lamanya, tempat ini telah dikelola oleh generasi ketiga,  Bu Gesti. Resep untuk membuat jenang ini turun temurun dari ibu mertua Gesti yang merupakan perintisnya.

Meskipun berpuluh-puluh tahun lamanya, Gesti konsisten menjaga rasa dari jenang itu. Cara menjaga rasa jenang sampai sekarang, antara lain, mempertahankan alat tradisional tungku untuk memproduksi jenang.

“Saya masih pertahankan itu karena akan berpengaruh ke rasa, khususnya gula jawanya,” ucapnya.

Di tempat itu, memang menawarkan kuliner berupa jenang saja. Ada empat jenis jenang yang bisa dipesan. Mulai dari Jenang Candil, Jenang Sumsum Putih, Jenang Sumsum Manis, dan Jenang Mutiara (Monte).

Para pelanggan bisa memesan satu demi satu jenang sesuai seleranya, bahkan bisa memesan keempat jenis jenang ini menjadi satu hidangan.

Wadah yang dipakai masih menggunakan daun pisang. Satu porsi jenang komplet kemudian diguyur santan segar yang memiliki cita rasa gurih dan asin. Jika dibungkus dibawa pulang, harganya berbeda dengan langsung disantap di tempat.

Per bungkus semua jenis jenang dengan harga Rp 5.000. Sedangkan jika dihidangkan di tempat, harga Rp 7.000-Rp 10.000 sesuai besar kecilnya mangkok.

Dalam partai besar, dia banderol harga per kuali ukuran besar Rp 500 ribu. Maka empat kuali besar dengan seluruh jenis jenang menjadi Rp 2 juta.

“Ini kalau yang pesanan keluar,” tambahnya.

Lokasi Jenang Bu Gesti memang seadanya alias tidak mewah. Namun para pembelinya berkerumun tiap pagi, mulai buka pukul 08.00 hingga tutup 10.00 pagi. “Tapi kalau hari libur, baru buka 1,5 jam saja biasanya langsung ludes,”  tambahnya. (cr15/laz)