RADAR JOGJA – Tidak benar-benar meredup, jajanan tempo dulu dan makananan tradisional masih memiliki ruang di hati penggemarnya. Terbukti dengan banyaknya anak muda yang mulai mengangkat jajanan tradisional dan dikemas sedemikian rupa untuk menarik perhatian.

Seperti halnya yang dilakukan Dinda Aneswari, 30, yang menciptakan Omah Mbokjajan sejak tahun 2014.

Menjual makanan jadul (zaman dahulu) sampai dengan mainan lama, Dinda menerapkan konsep one stop shopping. Memiliki konsep yang sama dengan minimarket pada umumnya, namun Dinda menawarkan produk tertentu dengan suasana yang tidak didapatkan di toko lain.

Berlokasi di Jalan Ireda Nomor 181A, Keparakan Kidul, Mergangsan, Kota Jogja, pengunjung akan disambut dengan bangunan Omah Mbokjajan yang sederhana.

Sebelum memasuki toko, pengunjung akan dimanjakan dengan aneka makanan jadul yang berada di dekat pintu. Saat memasuki toko, rak kayu dan keranjang dari anyaman bambu  berisi berbagai makanan dan mainan khas tahun 1980 sampai tahun 1990.

“Total ada lebih dari 200 produk yang dijual dengan harga mulai  Rp 1.500 sampai dengan Rp 100.000,” jelas Dinda kepada Radar Jogja  Sabtu (14/12).

Mainan jadul 90’an juga ada lho..

Menurut Dinda, saat ini yang merupakan industri kreatif, harus dimanfaatkan dengan mem-branding suatu produk. Karena, apa pun produk yang dijual jika tidak dikemas secara kreatif tidak akan bisa bersaing dengan produk lainnya.

Dinda memberikan contoh es doger yang saat ini sudah diangkat oleh salah satu anak muda dengan kemasan lebih menarik.

“Jika dicari, es doger masih bisa ditemukan di pinggir jalan, sama halnya dengan jajanan yang saya jual bisa ditemukan di warung dan online shop lainnya. Namun di Mbokjajan lebih mengusung ke konsep,” tambahnya.

Tidak berhasil secara instan, Dinda sedari tahun 2014 mulai mencari dari satu toko ke toko lainnya untuk mendapatkan produk yang dicari. Seiring berjalannya waktu, ia berhasil bekerjasama dengan pabrik yang masih membuat jajanan jadul.

Asik.. tinggal pilih sendiri..

Mulai dari cokelat, mie kemasan, kwaci, manisan, biskuit, dan jeli. Ada pula permen karet, permen susu, hingga permen berbagai rasa. Sebut saja permen karet Yosan yang menjadi primadona di zamannya.

Kemudian ada Permen Sapi, Collins Butter Nut, Pendekar Biru, Davos, Bolala, dan masih banyak lagi. Selain itu, Omah Mbok Jajan juga menyediakan cokelat choyo-choyo, cokelat koin, cokelat payung, dan cokelat jago.

Tidak hanya itu, Omah Mbokjajan juga menyediakan Mie Krip-Krip yang menjadi camilan favorit anak 90-an. Ada pula camilan seperti Gulai Ayam, Kenji, Mie Gemez, hingga Fujimie berjejeran di sini.

Untuk mainannya, bagi anak tahun 90-an tentu akan hafal dengan tamagoci, gimbot, hingga kapal otok-otok yang biasa ditemukan saat Sekaten.

Tidak hanya digemari generasi tua untuk bernostalgia, Dinda juga telah memperkenalkan kembali jajanan dan mainan jadul kepada anak-anak generasi milenial. Dengan cara mengikuti berbagi acara, dan kunjungan edukasi ke sekolah.

NIh jajanan kamu waktu masih SD kan..

Meskipun begitu, Dinda mengaku tidak menjual produk makanan tradisional. Mengingat penjualan yang dilakukan Dinda telah mencapai luar Jawa, bahkan mancanegara, seperti Singapura, Taiwan, dan Hongkong.

“Setiap tahunnya juga selalu dicek oleh badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), jadi terjamin aman,”  tuturnya.

Ia berharap, masyarakat akan semakin banyak ikut melestarikan makanan dan mainan yang pernah ada di masa lalu. Hal ini karena makanan dan mainan yang juga menjadi warisan budaya Indonesia.

Jangan sampai produk hasil Indonesia tidak dihargai di tempatnya, namun mendapat apresiasi di negeri orang lain.

Selain itu, Dinda juga berkeinginan untuk tidak hanya sekadar berjualan. Namun juga memberikan edukasi kepada pengunjung maupun pembeli terkait makanan, mainan bahkan produk lainnya yang ada di tokonya.

“Ingin mewujudkan kampung wisata yang mana pengunjung juga bisa ikut praktik langsung dalam pembuatan,” tuturnya. (eno/laz)