RADAR JOGJA – Usia yang kian bertambah terkadang membuat seseorang tak lagi memiliki banyak waktu luang untuk berkumpul bersama teman. Terlebih jika memasuki usia 40 hingga 50an. Padahal manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang membutuhkan kelompok (peer group).

Dilansir dari jawapos.com, menurut psikolog Klinis Liza Marielly Djapri, setiap manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang membutuhkan peer grup. Saat kehidupan seseorang sudah lebih tenang, biasanya mereka mulai merasa ingin kembali berkumpul dengan lingkaran sosialnya seperti remaja dulu.

”Seseorang tetap butuh peer grup. Apalagi kalau biasanya melupakan peer grup setelah lulus kuliah, sibuk kerja, menata karir, menikah, urus anak urus suami atau urus rumah. Saat suasana kehidupan sudah stabil maka mulai keingetan untuk  reconecting,” kata Liza.

Dia menyebut fase ini sebagai puber kedua atau ketiga seperti masa remaja. Berkumpul dalam geng. Masing-masing kelompok biasanya punya minat yang berbeda. Laki-laki biasanya ke otomotif. Saat hidup mulai stabil, karir lebih stabil, laki-laki mulai dengan kegiatan aktualisasi diri yang lain. Nah kalau perempuan senangnya ngumpul dan ngobrol atau arisan.

Liza menyarankan untuk siapa saja yang masih senang kumpul-kumpul dan tidak terbatas usia. Sebab, hal itu baik untuk meningkatkan mood bahkan mengusir stres. Namun ada beberapa hal yang perlu diingat. Di antaranya, pilihlah kelompok berteman dalam niat dan bergaul yang positif. Carilah teman atau peer group yang bisa saling bercerita dan mendukung. Peer grup tersebut bisa menjadi wadah untuk bertukar pikiran.

”Bisa ada seleksi alam. Misalnya akan mental satu-satu. Tiba-tiba sudah nggak cocok lagi visi misi dan gaya bercandanya. Berawal dari 10 orang lama-lama tinggal 5 orang misalnya,” katanya.

Menurutnya, peer grup yang lebih sehat dalam arti sebenarnya bisa dengan memilih kelompok dengan visi yang sama. Misalnya kelompok yang sama-sama menginginkan pola hidup sehat dengan olahraga.

”Para ibu rumah tangga yang tetap berkumpul dengan teman-temannya untuk tetap menganut hidup seimbang. Jangan lupa dengan kodratnya sebagai ibu yang mengurus anak, suami, dan rumah tangga. Jangan memaksakan diri ingin populer masuk ke dalam sebuah peer grup,” tuturnya. (jpc/ila)