LANGSUNG saja bisa dibilang bahwa film ini adalah salah satu film misteri unggulan tahun ini. Alasannya adalah cara mengupas motif insidennya yang meski terbocorkan di tengah jalan, tapi tetap berhasil membuat kejutan lapis barunya menarik dan relevan dengan gambar besar misterinya. Plus, penampilan para pemerannya solid.

Kejadian misteriusnya adalah pagi-pagi setelah perayaan ultah ke-85 di ruang kerjanya yang terletak di loteng seorang penulis novel misteri yang kesohor dan tajir ditemukan tewas. Dia tewas dengan posisi seolah bunuh diri oleh perawat pribadinya. Pihak polisi dan detektif swasta menyelidiki kejadian misterius itu. Seluruh anggota keluarga terancam menjadi tersangkanya.

Gaya bercerita film ini sarat obrolan dan ekspresi. Secara sinematografis tak manuveristik. Skripnya saya beri predikat cerdas karena ia menawarkan kesegaran yang tak ingin sebatas bermain-main pada pelintiran bombastis, melainkan lebih pada permainan psikologis atas dilema hati nurani dari karakter protagonisnya.

Jarang  saya mendapati film misteri dengan skrip yang mengangkat persimpangan dilematis yang dihadapi karakter protagonis sebegitu mendalam dan alamiahnya. Film ini terasa hadir untuk menjawab tantangan itu. Membuktikan bahwa apabila digarap secara matang karakterisasi protagonis yang memang baik hati pun bisa terbaca meyakinkan, tak mengada-ada, dan tak memuakkan.

Sang strada, Rian Johnson, sekali lagi berhasil membuat tertegun lewat ide dasar skripnya. Sebuah film misteri yang banyak nyerocos dan, sesungguhnya, kocak ini tak cuma memuaskan hasrat tebak-tebakan kita. Ia pun macam memberi khotbah dengan cara yang sangat implisit dan super asyik. (ila)

*Penulis adalah penggemar film dalam negeri dan penikmat The Chemical Brothers yang bermukim di Jogja Utara.