Namanya Mbah Mijem. Usianya satu abad lebih, tepatnya 104 tahun. Kendati begitu, semangatnya untuk belajar tak pernah padam. Sabtu (22/12) lalu, dia mendapatkan predikat cum laude dari Sekolah Lansia (Salsa) Salimah. Di balik usianya itu, dia menyimpan kenangan saat masa penjajahan Jepang dulu.

RADAR JOGJA – Di usianya yang melebihi satu abad itu, Mbah Mijem masih diberikan kesehatan. Inderanya juga masih berfungsi baik. Bahkan dia masih kerap membantu anak cucunya membuat makanan. Geraknya masih lincah. Kegigihan dan semangat belajarnya masih kuat. Hingga menginspirasi anak dan cucunya. Bahwa belajar itu tak mengenal usia.

Ditemui Radar Jogja di kediamannya, Padukuhan Rogoitan RT 62, Pendowoharjo, Sewon, Bantul, Minggu (22/12), Mbah Mijem tampak semringah. Dia menyambut hangat kedatangan koran ini.

Dia mengaku memiliki umur panjang menjadi kesempatan untuk tetap menuntut ilmu. Lebih dekat dengan keluarga dan memperkaya diri untuk beribadah kepada Sang Pencipta. Menurutnya, hidup yang dijalani dengan perasaan bahagia dapat membantu menurunkan beban emosi. Sehingga berdampak baik bagi kesehatan tubuh.

Selain itu, dia juga menerapkan pola hidup sehat dengan membiasakan bangun pagi dan rajin mengikuti pengajian. “Ya, kalau rutinitasnya seperti itu. Kadang kala bantu anak cucu bikin makanan,”  ungkap perempuan lima anak, 10 cucu dan lima buyut itu.

Di balik kisah Mbah Mijem, dia dulunya adalah seorang pedagang di Pasar Bantul. Dia berjualan makanan apem dan utri (makanan dari singkong dan kelapa). Bahkan, dia sudah berjualan sebelum masa penjajahan Jepang 1942. “Saat penjajahan itu saya masih berjualan di Pasar Bantul,” ingatnya. Setiap pukul 04.00 dia berjualan dengan berjalan kaki.

Nah, ketika zaman penjajahan Jepang, dia merasa ketakutan apabila berpapasan dengan tentara Jepang yang memakai senjata lengkap. Bila berpapasan, Mijem hanya menunduk dan memejamkan mata. Dia sangat ketakutan, takut tentara jepang menembakkan peluru itu.

“Apalagi di mana-mana banyak dipasang senjata. Di jalan-jalan, bahkan di kebun. Kalau lewat, saya sering tratapan,” tutur perempuan kelahiran tahun 1915 itu.

Pada masa-masa itu, suasana Padukuhan Ronggoitan masih sepi. Rumahnya masih berbentuk gubuk kecil. Jarak rumah masih berjauhan dan banyak kebun. Kendati begitu, saat siang hari semua orang tidak berani menampakkan diri. Semua berada di dalam rumah.  “Tak berani keluar karena dijaga tentara Jepang,” ungkapnya dengan Bahasa Jawa halus.

Dia tidak dapat membayangkan waktu itu. Banyak warga yang dibunuh. Semua orang berlarian ketakutan. Nah, untuk melindungi diri, setiap orang membuat kubangan di rumah masing-masing. Selain itu bentangan bukit di sepanjang Pajangan juga jadi tempat persembunyian penduduk sekitar.

“Kubangan itu untuk sembunyi, kalau-kalau tentara Jepang melancarkan tembakan. Bahkan sampai ada yang tidur di kubangan itu,”  katanya dengan rasa ngeri mengingat saat itu.

Terlebih wilayah Pendowoharjo berada di antara dua markas besar Jepang. Yakni, Padokan, Tirtonirmolo, Kasihan dan Gesikan, Wijirejo, Pandak.  Beruntung dia dan keluarganya lolos dari tentara Jepang. Hingga Kemerdekaan diproklamasikan, penduduk sekitar merasa lega.

Seorang cucu Mbah Mijem, Dani Kristianingsih, 40, mengatakan, ingatan Mijem tentang penjajahan masih melekat kuat. Dia mengaku juga mendapatkan cerita tersebut darinya. “Kalau simbok memang merasakan sendiri zaman penjajahan itu. Kisah itu jadi cerita untuk anak dan cucunya,” ungkapnya. (laz)