RADAR JOGJA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman menyiapkan serum antibisa ular yang tersebar di 10 unit puskesmas se-Sleman. Meskipun belum ditemukan laporan gigitan ular berbisa, hal ini dilakukan untuk antisipasi kemunculan ular di beberapa daerah.

Kepala Dinkes Sleman Joko Hastaryo mengatakan dari 25 puskesmas yang ada di Sleman, baru 10 unit yang menyediakan serum tersebut. Sepuluh puskesmas tersebut, Minggir, Godean 1, Seyegan, Mlati 2, Sleman, Tempel, Turi, Ngemplak 1, Kalasan, dan Berbah.

Seluruhnya adalah puskesmas dengan fasilitas rawat inap. Sedangkan untuk puskesmas tanpa rawat inap, jika ditemukan kasus gigitan ular akan segera dirujuk ke puskesma yang memiliki rawat inapnya.

Joko mengatakan jika mendapati kasus gigitan ular, penanganan pertama dengan membebat ketat area luka gigitan. Langkah ini untuk mengantisipasi bisa ular beredar ke seluruh tubuh.

Apabila racun menjalar hingga otak dan jantung, akan mengakibatkan kematian. ‘’Akan sangat berbahaya, bahkan dapat mengakibatkan kematian,’’ ungkap Joko, Jumat (27/12).

Terkait fenomena kemunculan ular beberapa waktu lalu, Pengendali Ekosistem Hutan Balai Konservasi Sumberdaya Alam (BKSDA) Jogjakarta Andie Chandra Herwanto mengatakan hal tersebut merupakan siklus tahunan. Periode September-Oktober adalah masa penetasan telur ular.

Ketika musim hujan tiba, kata Andie, anakan ular akan keluar dari sarang untuk mencari tempat yang hangat. Untuk mencegah ular masuk permukiman, hendaknya warga rutin membersihkan bagian dalam dan luar rumah.

Biasanya, ular akan bersembunyi di tumpukan batu, rerimbunan bambu atau plafon rumah. ‘’Lokasi-lokasi itu yang perlu mendapat perhatian ekstra, ditambah lagi rumah yang kosong tidak dihuni,’’ kata Andie.

Jika menemukan ular yang berbahaya, masyarakat diimbau segera melapor ke petugas yang memiliki kompetensi penanganan satwa. Seperti Pemadam Kebakaran dan BPBD setempat. (eno/iwa/tif)