RADAR JOGJA – Direktur Utama PT Angkasa Pura I Faik Fahmi mengakui adanya penurunan jumlah penumpang pesawat selama 2019. Perbandingan di tahun sebelumnya, jumlah penumpang turun hingga tujuh persen. Salah satu penyebabnya adalah meningkatnya fasilitas moda transportasi darat.

Faik mengakui peningkatan fasilitas transportasi darat memberikan dampak signifikan. Terlebih saat ini ruas tol antardaerah telah terhubung. “Secara nasional ada penurunan hingga tujuh persen. Memang saat ini perkembangan moda transportasi pesat. Jadi tidak harus melalui jalur udara semata,” jelasnya saat ditemui di Bandara Internasional Adisutjipto Jogjakarta, Selasa (31/12) 2019.

Walau begitu peningkatan transportasi darat bukan berarti menjadi alasan head to head. Faik justru memandang peningkatan ini dapat menjadi altenatif bagi penumpang. Meningkatnya fasilitas moda transportasi secara tidak langsung turut berimbas positif bagi bandara.

“Ya seperti moda transportasi penghubung ke bandara, ini kan juga pakai transportasi darat. Saat akses lancar maka angka penumpang bandara juga tetap baik,” ujarnya.

Dia mencontohkan beberapa bandara yang mengalami pertumbuhan seperti Bandara Ngurah Rai Bali yang tumbuh hingga delapan persen dan penerbangan ke Lombok naik menjadi 16 persen. Begitupula di Biak Papua merangkak naik hingga 16 persen.

“Meski makin banyak opsi moda transportasi, kami (AP I) tidak rugi, justru laba naik. Terbukti untuk penerbangan mayoritas penuh terus,” katanya.

Sementara General Manager PT AP I Bandara Internasional Adisutjipto Jogjakarta Agus Pandu Purnama mengakui adanya penurunan penumpang. Khususnya dalam masa libur Natal dan Tahun Baru 2019/2020. Tercatat penurunan penumpang hingga -1,6 persen. Bahkan untuk extra flight juga turun dari 380 pergerakan di 2018 menjadi 44 pergerakan di 2019.

Angka pergerakan tersebut merupakan komulatif Bandara Adisutjipto dan YIA. Sebanyak 20 pergerakan pesawat extra flight dari YIA. Sisanya 24 pergerakan pesawat di bandara Adisutjipto.

“Untuk Nataru ini ada sedikit penurunan tapi tidak signifikan dibanding bandara lain. Ini bukti bahwa bandara di Jogjakarta masih diminati. Angka -1,6 persen itu komulatif dari YIA dan Adisutjipto,” jelasnya.

Terkait Nataru, puncak lonjakan penumpang terjadi H-3 Natal. Untuk YIA lonjakan penumpang dari 1.600 menjadi 3.388 penumpang per harinya. Sementara di Bandara Adisutjipto naik dari 16 ribu menjadi 24 ribu per harinya.

Prediksi puncak arus balik terjadi H+4 tahun baru. Pandu memprediksi ada peningkatan signifikan di kedua bandara Jogjakarta. Apalagi masa ini bertepatan dengan musim liburan sekolah siswa.

“Memang jika dibanding tahun lalu, jumlah pergerakan extra flight turun drastis, dari 380 pergerakan jadi 44 pergerakan. Tapi tidak mengurangi jumlah penumpang tahunan, karena tingkat okupansi tahun ini rata-rata sudah diatas 99 pesen,” katanya. (dwi/tif)