RADAR JOGJA – Belum diperbaikinya sarana dan prasarana di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, ditambah musim hujan, memberatkan pemulung di sana. Pendapatan mereka pun turun dibanding saat kemarau.

Ketua komunitas pemulung Mardiko Maryono mengatakan, mengais sampah di musim hujan, tak semulus di musim kemarau. Selama tiga minggu terakhir ini mereka kelimpungan mengais sampah. “Begitu hujan, sampah yang diturunkan truk pengangkut langsung didorong buldoser,” ungkapnya Minggu (4/1).

Hal tersebut, berpengaruh pada hasil mengais sampah. Hasil penyetoran sampah minim. Yang biasanya mendapatkan minimal Rp 35 ribu, kini menurun hingga Rp 25 ribu per hari. Dengan muatan sampah berupa botol plastik yang bisa diolah kembali. “Biasanya begitu sampah turun pemulung langsung mengaisnya. Sekarang tidak bisa. Sulit,” keluhnya.

Dikatakan, kondisi musim hujan menyebabkan truk pengangkut sampah menumpuk di dermaga selatan atau bagian atas, yang seharusnya digunakan plat merah. Karena dermaga becek, pembuangan dilakukan hanya sampai tepi atau dekat pintu masuk TPST Piyungan.  “Makanya, langsung buru-buru diratakan. Biar antrinya tidak kelamaan,” kata Maryono.

Disisi lain, harga sampah per kilogramnya juga mengalami penurunan. Sardi Winarto, 55, Pemulung dari Padukuhan Sentulrejo, Sitimulyo, Piyungan mengaku, harga sampah menurun sejak awal Desember lalu. Sampah botol plastik yang biasanya senilai Rp 7 ribu per kg menurun hingga Rp 4 ribu per kg.  “Sampah berupa gelas plastik menurun setengahnya. Dari Rp 5 ribu menjadi Rp 2.500,” tutur Sardi.

Penyebab penurunan nilai sampah belum diketahui pasti. Berdasarkan keterangan pemulung sekitar, harga sudah ditentukan oleh pabrik.  “Nilai sampah lambat laun makin menurun. Ya upayanya, harus mengais sampah lebih banyak lagi,” ungkapnya (mel/pra)