RADAR JOGJA – Tiga kecamatan di Kabupaten Purworejo yang memiliki potensi banjir atau luapan sangat besar bakal mendapatkan bantuan. Bantuan yang akan diberikan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Purworejo iu berupa perahu. Perahu tersebut untuk melengkapi ketersediaan alat untuk evakuasi korban banjir.

Kasi Kedaruratan BPBD Purworejo Iman Ciptadi mengatakan, ketiga perahu itu akan diberikan kepada Kecamatan Bagelen, Kecamatan Purwodadi, dan Kecamatan Butuh. Kecamatan Bagelen dan Kecamatan Purwodadi selama ini menjadi wilayah terdampak luapan Sungai Bogowonto. Sedangkan Kecamatan Butuh menjadi langganan banjir akibat luapan Sungai Jali.

“Total pengadaan perahu baru di tahun 2019 akhir kemarin ada empat perahu. Tiga untuk kecamatan dan satu digunakan BPBD. Ini menambah ketersediaan perahu dari sebelumnya hanya enam perahu,” tutur Iman kemarin (5/1).

Dijelaskan, perahu yang akan diserahkan ke kecamatan itu nantinya ditempatkan di kantor kecamatan. Praktis, pengelolaannya di bawah tanggung jawab pihak kecamatan.

Keberadaan perahu itu dinilai sangat membantu saat terjadi bencana banjir atau luapan sungai. Perahu bisa dibawa ke lokasi yang membutuhkan, sambil menunggu perahu lain yang ada di markas BPBD. “Dengan adanya perahu di kecamatan akan mempercepat proses penanganan terhadap korban banjir,” imbuh Iman.

Dia mengatakan, saat ini kondisi sungai besar yang ada di Purworejo masih stabil. Sungai Jali dan Sungai Bogowonto masih dalam kondisi normal. Khusus Sungai Bogowonto, sejauh ini sudah mulai ada kenaikan eskalasi air.

“Tapi ketinggian air masih kurang dari satu meter atau masih hijau. Ini bisa kita pantau dari alat CCTV yang ditempatkan di Bendungan Boro,” tambahnya.

Terpisah, Camat Purwodadi Hartono mengatakan, wilayahnya merupakan daerah paling terdampak saat terjadi luapan Sungai Bogowonto. Tercatat ada lima desa yang menjadi langganan banjir. “Kami sudah melakukan langkah antisipasi dan mendirikan posko utama di kantor kecamatan,” jelasnya.

Selain posko di tingkat kecamatan, pemerintah desa juga diarahkan membuat posko-posko di tingkat desa. Pimpinan desa telah diinstruksikan mengajak masyarakat meningkatkan partisipasi dengan membuat alat komunikasi tradisional.

“Itu menjadi poin-poin yang disepakati dalam rakor (rapat koordinasi) yang kita gelar pekan lalu,” imbuh Hartono.

Secara khusus, desa juga telah menyediakan ban-ban bekas sebagai alat bantu penanganan saat banjir. Sementara warga Desa Karangsari sudah membuat perahu dari tong bekas. (udi/amd)