RADAR JOGJA – Kawasan kumuh di Kota Jogja terus berubah. Tergantung pada keputusan Wali Kota (Kepwal) Jogja. Berdasarkan Kepwal Nomor 216 tahun 2016, menetapkan luas kawasan kumuh di Jogja mencapai 264,9 hektar.

Artinya, Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Jogja kurang lebih seluas 70-75 hektar. Padahal jika berdasarkan Kepwal sebelumnya, pada 2015, penataan kawasan kumuh sudah selesai pada 2019 dan mampu memenuhui target 0 hektar kumuh. “Ini kalau dikatakan 100 persen secara kepwal 2015 sudah selesai,” ujar Kepala DPUPKP, Agus Tri Haryono belum lama ini.

Itu dikarenakan ada beberapa segmen yang belum dimasukkan pada kepwal tahun 2015, kemudian dimasukkan di kepwal yang baru. Sehingga kawasan kumuh di wilayah Jogja bertambah. “Rata-rata ada di bantaran sungai, yang non bantaran kurang lebih hanya lima persen,” jelasnya.

Lima persen kawasan kumuh berada di non bantaran tersebut, meliputi wilayah Klitren, Kricak, dan Pasar Kembang. Sedangkan sisanya 95 persen berada di bantaran sungai besar di kota Jogja yaitu Code, Winanga, dan Gajah Wong. “Tapi untuk penataan di bantaran sungai ini kita akan fokus berada di sisi Winanga yang paling banyak,” tuturnya.

Dalam melakukan penataan ini sudah menyiapkan dana sekitar Rp 27 miliar dari pemerintah pusat. Pun dia tetap melakukan sharing anggaran jika pada saat penataan kawasan kumuh harus ada permukiman warga yang terdampak. “Kalau yang terkena efek sosialnya tinggi itu adalah tugasnya kota. Tapi kalau penataan kawasannya adalah pemerintah pusat dengan Kotaku,” tambahnya.

Sementara itu,Koordinator Pimpinan Kolektif BKM Bangun Krida Mulya Kelurahan Kricak, Tegalrejo, Mawardi Dalga mengharapkan tahun 2020 ini bisa mencapai target kawasan kumuh 0 persen. “Kami berharap nol persen (kawasan kumuh),” harapnya.

Dia menjelaskan total pengurangan kumuh selama akhir tahun 2019 lalu mencapai 3.33 hektar dari total luasan kumuh awal tahun 2019 mencapai 6.7 hektar. “Luas kumuh akhir tahun kemarin (2019) masih 3.37 hektar,” ucapnya.

Seluas 3.37 hektar tersebut rata-rata ada yang dibangun Ruang Terbuka Hijau (RTH) di sisi timur Sungai Winongo tepatnya di RW 01 dan RW 02. Dan lainnya adalah penataan lingkungan air bersih serta lingkungan bersih asri di RW 07 dan RW 08, Kricak, Tegalrejo. “Ada juga penataan permukiman,” imbuhnya. (cr15/pra)