HAL pertama yang membuat saya berminat nonton film ini adalah posternya. Kedua, sutradaranya yang merupakan salah satu strada dengan konsistensi karya bermutu relatif stabil. Ketiga, film ini tayang di sangat awal tahun yang membuat saya penasaran dan ingin melihat bagaimana dia memasang level pencapaian film domestik untuk 2020 ini.

Berbekal minim sinopsis dan info lebih lebih lanjut sebelum menontonnya, film ini pada awalnya terasa sangat acak bagiku. Narasi prolognya tak bisa saya raba, diucapkan oleh siapa, protagonis atau lainnya. Selang beberapa menit, saya mulai bisa merangkai plot utama film ini. Pada akhirnya, saya menangkap bahwa ide besar yang ingin disampaikan cerita film ini adalah tentang bagaimana rahasia (besar) dalam sebuah keluarga yang awalnya dipendam denagn tujuan dapat menumbuhkan kebahagiaan di masa depan, malah menjadi bumerang liar yang mengambyarkan keharmonisan  keluarga.

Moral yang universal ini dinarasikan lewat kehidupan satu keluarga dengan kepala keluarga (baca: ayah) yang superprotektif, khususnya pada anak bungsunya (Awan). Saking protektifnya, sampai-sampai si ayah membuat si sulung (Angkasa) bak sopir ojol bagi Awan, dan si tengah (Aurora) terabaikan. Terjadilah satu momen ledakan dalam suatu ”siding” cekcok keluarga. Sebuah misteri terpendam terkuak. Momen ini membuat keluarga ini mendefinisikan kembali arti bahagia dan keluarga.

Di pertengahan film saya spontan merasa bahwa materi film ini sangatlah luas dan dalam beberapa sisi menampilkan kompleksitas kondisi emosional dan prinsip yang dalam hingga membuat penasaran siapakah penulis skripnya. Setelah mengulik, ternyata sesuai dugaan bahwa film ini merupakan adaptasi dari novel. Menimbang bentang konflik emosional dan prinsipil yang cukup luas, saya jadi sangat bisa memakluminya.

Penyutradaraan Angga Dwimas Sasongko/ADS pun cukup berani dalam menampilkan beberapa adegan dialog dramatisnya. Yang sangat potensial mengungkit kembali memori saat kelam yang pernah atau sedang terjadi dalam keluarga kita.

Banyak isu yang terburai dalam narasi film ini, sampai-sampai penonton bisa kewalahan mau mendalami dan menikmati yang mana. Konflik dalam film ini relevan bagi banyak kehidupan manusia.

Kekayaan konflik antarkarakter dalam film ini cukup mampu terbangun. Sekali lagi, film ini termasuk yang punya satu adegan dramatis eksplosif yang patut dikenang dalam sejarah perfilman domestik modern, sebagaimana adegan UKS dalam film Dua Garis Biru. Rio Dewanto membuatku terkaget oleh performanya dalam satu adegan itu.

Boleh dibilang film ini telah membuka perfilman domestik 2020 dengan level pencapaian yang cukup tinggi. Intensitas drama dengan penggarapan artistik yang kasual dan cermat membuat film ini mudah mengetuk hati dan pikiran kita tanpa perlu kehilangan gaya. Bagiku,yang termahal dari film ini adalah dia berhasil mengangkat tema keluarga yang level urgensi untuk didiskusikannya secara dialogis dalam internal keluarga sangat tinggi karena bersifat multidimensional. Selamat tahun baru blantika perfilman Indonesia, lewat film ini standar mutu karya-karya tahun ini seharusnya ikut meningkat. (ila)

*Penulis adalah penggemar film dalam negeri dan penikmat The Chemical Brothers yang bermukim di Jogja Utara