RADAR JOGJA – Aksi barbar berupa perusakan dan pembacokan yang dilakukan  gerombolan remaja barbar Sabtu (4/1) di warung penyetan Jalan Anggajaya, Condongcatur, dan Jalan Moses Gatotkaca, Caturtunggal, Depok, menjadi perhatian serius polisi.

Kapolres Sleman AKBP Rizky Ferdiansyah menegaskan segera mengejar para pelaku. Termasuk jika para pelaku itu masih di bawah umur. “Kalau tegas, ya kami pasti tegas,” ujar Rizky saat dihubungi Senin (6/1).

Perwira menengah dua melati itu menyebut, jika pelaku klithih merupakan pelajar atau mereka yang masih di bawah umur ada mekanisme tersendiri. Merujuk Pasal 1 angka 7 UU 11/2012, pengertian diversi adalah pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana. Lalu, Pasal 5 ayat (3) menegaskan “dalam Sistem Peradilan Pidana Anak wajib diupayakan diversi”. “Jangan sampai itu justru kami yang melanggar aturan, karena tidak sesuai tupoksi,” katanya.

Kapolres mengatakan, kasus tersebut saat ini ditangani Polres Sleman. Oleh karenanya, pihaknya segera melakukan penyelidikan agar kasus yang meresahkan masyarakat ini bisa terungkap. “Mudah-mudahan yang ini segera bisa ditangkap, agar juga bisa terungkap motifnya,” bebernya.

Sejauh ini dari informasi yang dia terima, baru pemilik warung yang melaporkan kejadian itu ke polisi. Sedangkan korban pengejaran dan pembacokan di Jalan Moses, belum ada laporan polisi yang masuk. “Tapi korban kami datangi untuk buat laporan. Ini sebagai dasar kami untuk lidik dan sisik,” katanya.

Kendati ada kejadian klithih di malam hari, Rizky menegaskan tidak akan menerapkan jam malam. Agar tidak membuat masyarakat resah. Pihaknya hanya mengimbau orang tua agar mengawasi jika anaknya keluar pada malam hari. “Kemudian mengontrol, apalagi kalau sudah larut malam tidak pulang ke rumah,” pintanya.

Polres Sleman, kata dia, akan lebih fokus dalam mengungkap kasus klithih. Pemetaan juga sudah dilakukan oleh jajaran polres terkait wilayah yang rawan terjadi aksi klithih. “Kami sedang proses untuk memperbarui data wilayah rawan klithih,” bebernya.

Guna mencegah dan mengantisipasi tindak klithih di kalangan pelajar, polisi selama ini sudah mempunyai program. Yakni program satu sekolah dua polisi untuk lebih meningkatkan penyuluhan kepada siswa. “Tidak hanya penegakan hukum, tapi kami juga akan meningkatkan lagi upaya preventif dan preemtif,” katanya.

Adanya kejadian itu membuat jajarannya akan lebih banyak lagi berkunjung ke sekolah-sekolah. Untuk memberikan pengarahan kepada siswa. Polres juga melibatkan banyak pihak, termasuk guru dan orang tua. “Jadi perlu bersama-sama dalam penanganannya,” tandas Rizky. (har/laz)