RADAR JOGJA –  Pada awal musim penghujan, fenomena tanah berlubang atau sinkhole kembali muncul di Gunungkidul. Kali ini ditemukan di wilayah Padukuhan Karangawen, Karangawen, Girisubo.

Dukuh Karangawen Yuono mengatakan,  sinkhole mulai terlihat pasca hujan deras pada akhir pekan lalu. Pihaknya mendapatkan laporan dari warga. Diinformasikan bahwa lokasi sinkhole merupakan lahan milik Jumadi yang digarap Rajiman dan Rukiyem.

“Fenomena tanah berlubang di daerah Karangawen tidak hanya sekali ini saja. Tahun 2018 juga ditemukan hal serupa di dua lokasi dengan diameter lubang berbeda,” ungkapnya.

Yuono  menjelaskan, temuan sinkhole saat ini berdiameter sekitar tiga meter dengan kedalaman kurang lebih lima meter. Sedangkan tahun lalu ada dua kejadian tanah ambles, satu di lokasi Karangkidul satu di Padukuhan Gilangan.

“Kedua tanah ambles tahun lalu memiliki lebar dan kedalaman berbeda-beda. Di Karangkidul memiliki diameter dua meter dan kedalaman tujuh meter, sedangkan satunya berada di Gilangan dengan kedalaman delapan meter,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul Edy Basuki mengatakan, hingga sekarang belum ada laporan masuk terkait fenomena sinkhole di Karangawen, Girisubo. “Segera kami kroscek ke lapangan,” kata Edy.

Menurut dia, berdasarkan data 2018, terjadi 32 fenomena sinkhole tersebar di sejumlah wilayah kecamatan. Wilayah berpotensi terjadi sinkhole meliputi Kecamatan Semanu, Rongkop, Ponjong, Girisubo, Purwosari, Tanjungsari, dan Paliyan.

“Terbanyak ada di Rongkop sebanyak 18 kejadian sinkhole. Kecamatan Paliyan ada di satu titik Desa Karangasem. Kecamatan Saptosari satu titik yaitu Krambilsawit, Purwosari juga satu titik,”  ungkapnya.

Atas kejadian itu pihaknya mengimbau kepada masyarakat untuk tidak menutup lubang dari tanah ambles dengan sampah. Dikhawatirkan jika ditimbun dengan sampah dapat mencemari sungai bawah tanah.

Tanah ambles biasanya ditandai dengan adanya permulaan cekungan dalam kurun waktu tertentu, kemudian tertimbun tanah. Karena adanya hujan, air menggenang bercampur tanah dan masuk ke lubang kecil atau diasbut ponor. “Itu yang mengakibatkan ambles, biasa terjadi di kawasan kars,” terangnya. (gun/laz)