BUDAYA tradisional yang dimiliki Indonesia merupakan warisan nenek moyang yang harus dijaga dan dilestarikan. Di era globalisasi yang berkembang pesat saat ini, budaya Barat sangat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap pola hidup dan budaya masyarakat Indonesia.

Budaya tradisional mulai terpinggirkan, bersaing dengan budaya barat yang virusnya semakin hari semkin mewabah. Melalui kecanggihan teknologi yang semakin merajalela, budaya Barat sangat mudah masuk Indonesia dari berbagai penjuru arah. Menggunakan media sosial sebagai senjata utamanya. Dalam hitungan detik saja, berbagai macam foto, video, dan film yang dikembangkan budaya barat dapat tersebar luas ke Indonesia.

Hal tersebut menyebabkan budaya tradisional menjadi minoritas di kalangan daerah sendiri. Apalagi sekarang tengah gencar isu revolusi industri Indonesia yang memasuki babak 4.0, yang segala sesuatunya tergantung pada internet. Adapun internet mayoritas penggunanya adalah anak milenial. Generasi muda yang tidak semuanya bisa memfilter sesuatu yang dilihat dan didengar dengan baik.

Melihat fenomena tersebut membuat mahasiswa PGMI melek untuk menyelenggarakan pagelaran budaya sendratari bertemakan Romansa Citra Budaya dalam Bingkai Kearifan Islami. Seni tari merupakan salah satu tradisi dalam bersosialisasi dan melestarikan kesenian tradisional.

Anggota yang terlibat dalam pagelaran tersebut yaitu mahasiswa prodi PGMI angkatan 2018 dan 2019 yang saling bekerja sama, bantu saling membantu untuk menyukseskan acara tersebut. Tidak ketinggalan, dosen PGMI pun ikut andil dalam acara tersebut. Sebagai pemberi saran dan ruang konsultasi bagi mahasiswa agar acara berjalan sesuai harapan. Acara tersebut digelar di gedung Conventian Hall UIN Sunan Kalijaga lantai 1 dan terbuka untuk umum pada hari Jumat, 20 Desember 2019. Acara tersebut dihadiri oleh mahasiswa dari universitas lain seperti UAD dan mahasiswa UIN Sunan Kalijaga dari berbagai fakultas.

Adapun pengisi acara inti dalam pagelaran tersebut diambil dari semester tiga, sedangkan panitianya dari mahasiswa semester satu.  Salsabrina, mahasiswa semester 1 yang sekaligus panitia, menyatakan bahwa kegiatan tersebut dilaksanakan setiap tahun sebagai Ujian Akhir Semester bagi prodi PGMI khususnya semester 3. Selain untuk memenuhi tugas, pagelaran tersebut dilaksanakan untuk memperkenalkan kepada seluruh mahasiswa UIN untuk lebih mencintai, menjaga, dan melesatarikan budaya Indonesia melalui seni tari tradisional agar tidak hilang ditelan budaya barat.

Selain seni tari tradisional yang dipentaskan, acara tersebut juga menyajikan drama Asal Usul Banyuwangi. Semua tersajikan sangat apik di atas panggung yang membuat penonton terhipnotis dan bergerak mengeluarkan hp untuk mengabadikan setiap moment. Mahasiswa PGMI memerlukan waktu kurang lebih 2 bulan untuk menggelar acara sebesar itu.

Meskipun seni tari terkenal dengan para penari yang bersanggul. Namun kali ini berbeda, mahasiswa UIN Sunan Kalijaga sebagai penari tetap mengenakan hijab. Ini juga sebagian dari dakwah yang menunjukkan bahwa agama dan budaya dapat diakulturasi menjadi harmoni yang indah tanpa melanggar syariat Islam. ini juga menandakan bahwa jilbab sejatinya tidak membatasi ruang gerak perempuan dalam berkarya.

“Cintai budayamu agar budayamu terjaga dan lestarikanlah agar negeri lain tak mampu mengambil budayamu. Kalau bukan mahasiswa, generasi penerus bangsa,  yang menjaga dan melestarikan keasliannya. Lalu siapa lagi?. (ila)

*Penulis merupakan mahasiswa PGMI UIN Sunan Kalijaga