RADAR JOGJA – Jika tidak dilakukan perluasan lahan, Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Bantul diperkirakan hanya akan bertahan selama satu tahun ke depan. Sebab, setiap hari, TPST Piyungan menerima sampah seberat 700 ton berasal dari Kota Jogja, Sleman, dan Bantul.

Peneliti Pusat Studi Lingkungan Hidup (PSLH) Universitas Gadjah Mada (UGM) Sulistyono menjelaskan jika tidak dikelola dengan serius, TPST Piyungan akan berdampak terhadap lingkungan. Selama ini, total sampah yang diterima sebagian besar adalah 50 persen dari Kota Jogja, Bantul menyumbang 30 persen, dan Sleman 20 persen.

Jika terus dibiarkan, dampak lingkungan yang bisa terjadi adalah pencemaran lingkungan baik dari sisi udara, tanah maupun air. Lebih dari itu, adanya endapan gas metan bisa menumbulkan ledakan. Jika dibiarkan, kejadian meledaknya gas metan seperti yang terjadi di TPST Bantargebang ditakutkan akan berulang.”Selain itu, cairan yang meresap ke tanah akan berbahaya jika dikonsumsi masyarakat,” jelas Sulistyono, Selasa (7/1).

Menurut Sulistyono, persolan penumpukan sampah di Piyungan dikarenakan pengelolaan tidak dilakukan dengan benar. Selama ini, sampah yang ada tidak dilakukan pemilahan. Sehingga sampah hanya sekadar ditumpuk tanpa membedakan adanya sampah yang masih bisa diolah menjadi barang bernilai ekonomis. Seperti halnya sampah organik yang bisa dijadikan kompos, atau nonorganik yang bisa didaur ulang.

Permasalahan lainnya, tambah Sulistyono, adalah petugas kebersihan yang mengambil sampah enggan memisahkan sampah berdasarkan jenisnya. “Sampah tersebut kembali tercampur lantaran jumlah armada truk juga terbatas dan belum memiliki truk khusus di masing-masing jenis sampah,” tambah Sulistyono.

Sulistyono menambahlan, sudah saatnya setiap wilayah memiliki TPST sendiri guna mengurangi volume sampah yang dibuang ke TPST Piyungan. DIJ bisa mencontoh Bali yang saat ini sudah punya tempat sampah yang sampahnya itu dibakar kemudian dijadikan pembangkit listrik.

Terkait fungsi bank sampah, tambah Sulistyono, bank sampah bisa mengurangi jumlah sampah yang ada. Hal ini karena sebelum sampai ditumpuk di tempat terkahir sudah dipisahkan antara organik dan non organik. “Lalu kalau ada sampah yang sekiranya masih bisa dipakai, diolah menjadi suatu barang yang bisa dijual,” ungkapnya.

Staf TPST Piyungan Sumarwan menuturkan, TPST Piyungan membutuhkan sarana dan prasarana pendukung untuk mengelola sampah. “Di sini perlu dibuat drainase, dermaga pembongkaran, serta talud bronjong,” jelas Sumarwan. (eno/din)