RADAR JOGJA – Warga Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, memiliki kesenian khas yakni Wayang Sakral. Kesenian tersebut diinisiasi anggota Padepokan Seni Tjipta Boedaja yang berdiri sejak 1937. Dalam setahun, setidaknya ada empat pementasan yang wajib diselenggarakan.

Di lereng Gunung Merapi, tepatnya di Dusun Tutup Ngisor, Desa Sumber, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang, terdapat warisan kebudayaan cukup unik. Warga setempat menamainya dengan Wayang Sakral.

Wayang ini dipentaskan oleh anggota Padepokan Seni Tjipta Boedaja. Pentasnya tiap tanggal 15 malam di bulan Sura dalam penanggalan Jawa.

Pemimpin Padepokan Seni Tjipta Boedaja Sitras Anjilin menjelaskan, para pemain yang menjadi pemeran utama Wayang Sakral ini terutama keturunan Romo Yoso. Pemeran lainnya wajib warga Tutup Ngisor atau warga yang hubungannya sudah dekat dengan Padepokan Seni Tjipta Boedaja.

Lakonnya adalah Mbangun Lumbung Tugu Mas atau Sri Tumurun. Pementasan dibuka dengan tari Kembang Mayang ciptaan Romo Yoso. Penarinya ada sembilan perempuan. Mereka juga keturunan Romo Yoso. Mereka wajib dalam keadaan ”bersih” atau tidak sedang menstruasi.

Romo Yoso berpesan bahwa dalam setiap pentas, apapun bentuk keseniannya, tidak boleh ada adegan kematian. ”Kalaupun ada tokoh yang harus mati, dibelokkan. Misal, dengan melarikan diri. Gendhing-gendhing yang dimainkan juga menghindari tema kematian semisal panjangilang, megatruh, dan sukma ilang,” jelas Sitras.

Meski demikian, padepokan ini terbuka dengan hal-hal baru. “Banyak lulusan ISI (institut seni Indonesia). Anggota padepokan kami berdayakan untuk jadi koreografer. Paling tidak, orang-orang yang mengenyam dunia akademis ini bisa memberikan nuansa baru,” jelasnya.

Padepokan Seni Tjipta Boedaja berdiri pada 1937. Sejak saat itu, padepokan ini menjadi wadah para pelaku seni untuk menelurkan banyak karya.

Semuanya berawal dari kegigihan Romo Yoso Sudarmo. Kini roda kepemimpinan dijalankan Sitras, anaknya ketujuh dari Romo Yoso Sudarmo.

“Bapak saya (Romo Yoso Sudarmo) dulu belajar seni kurang lebih tiga tahun. Dari sanggar ke sanggar. Lalu kembali ke kampung. Kalau orang-orang bilang, selama tiga tahun itu Bapak saya hilang,” jelas Sitras.

Setelah mengembara belajar seni ke berbagai tempat, Romo Yoso mulai mengadakan pementasan. Sejak saat itu, kesenian yang ditampilkan berkembang menjadi tradisi.

Saat ini beberapa tradisi sudah rutin dilaksanakan setiap tahun. Dalam setahun padepokan ini menggelar pementasan wajib sebanyak empat kali. Yakni, pada tanggal 15 Sura, 12 Maulud, 17 Agustus, dan Idulfitri. (asa/amd)