RADAR JOGJA – Proses pembangunan underpass Kentungan sudah dimulai sejak Januari 2019. Namun hingga kini urung bisa digunakan. Saat ini prosesnya melakukan pembersihan material dan penambahan beberapa komponen pendukung lainnya.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) DIJ Sigit Sapto Raharjo saat dihubungi menjelaskan, pihak provinsi dan Satker PJN telah melakukan rapat koordinasi beberapa waktu lalu. Hasilnya, satker diminta segera menyelesaikan underpass Kentungan. “Maksimal 15 Februari bisa operasional. Dari pihak PJN akan mencoba lebih cepat tidak sampai 15 Februari,” ujar Sigit kepada Radar Jogja kemarin (12/1).

Dia menjelaskan, secara umum underpass Kentungan sudah bisa dilewati kendaraan. Namun perlu ada proses seperti membersihan sisa material pembangunan dan sedikit pembenahan lain. “Kalau dilewati sudah bisa, tapi kan proses bersih-bersih pembenahan yang lainnya juga perlu untuk safety,” terangnya.

Sigit juga menjelaskan salah satu langkah untuk menjamin kemanan pengendara yakni dengan memasang rambu-rambu. Selain itu penerangan jalan juga harus dipastikan berfungsi. Sebab, beberapa waktu lalu lampu penerangan yang dipasang di sisi kanan kiri underpass sempat mengalami korsleting. “Rambu sudah ada, lampu kami lakukan pembenahan sedikit. Nanti kami pasang warning light juga,” bebernya.

Terkait manajemen rekayasa lalulintas, Sigit memastikan tidak akan banyak yang berubah. Namun nanti jika underpass beroperasi akan ada petugas yang menjaga. “Jadi manajemennya biasa saja, kemungkinan kalau baru pertama akan kami jaga. Tapi kalau sudah jalan akan seperti biasa,” katanya.

Sementara itu, Budi Susislo, 28, salah seorang warga Depok, Sleman, berharap dengan adanya underpass bisa mengurai kemacetan di Jalan Kaliurang. Apalagi saat jam sibuk, antrean kendaraan sangat panjang, baik dari arah timur, barat, utara, dan selatan.

“Yang jelas kami ingin nantinya ada manajemen lalulintas yang lebih baik. Mungkin durasi APILL diubah atau dibuat seperti Jombor,”  harapnya.

Pembangunan fisik underpass Kentungan dengan panjang 900 meter sejak Januari 2019 ini bertujuan untuk mengurai simpul kemacetan akibat pertemuan lalu lintas dari empat arah. Yakni antara Jalan Kaliurang dengan Jalan Padjajaran (ring road).

Proses pembangunan underpass yang dikerjakan Kementerian PUPR melalui Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional (BBPJN) VII dilakukan sejak 2018. Masa pelaksanaan proyek selama 384 hari kalender. Mencakup empat pekerjaan utama. Yakni bore pile, secant pile dan voided slab. Kemudian pekerjaan baja tulangan. Dilanjutkan pengecoran beton. Terakhir pekerjaan jalan.

Underpass terdiri atas dua lajur. Terdiri atas konstruksi terowongan atau slab tertutup sepanjang 224 meter. Jalan pendekat arah timur sepanjang 386 meter dan jalan pendekat barat sepanjang 298 meter. Total anggaran yang dibutuhkan Rp 101,6 miliar melalui kontrak multiyears tahun anggaran 2018-2019. (har/laz)