RADAR JOGJA – Menteri Koordinator Politik,hukum dan keamanan (menkopolhukam) Mahfud MD menjadi pembicara dalam Dialog Kebangsaaan “MerawatPersatuan, Menghargai Keberagaman”, di Auditorium Prof Kahar Mudzakkir, Universitas Islam Indonesia (UII), Selasa (14/1). Dia mengajak masyarakat untuk menjaga NKRI dari perpecahan.

“Tugas warga Indonesia adalah menjaga keutuhan bangsa dan menghargai fakta bahwa Indonesia itu beragam dan tugas pemerintah menjaga kebersatuan itu, dengan cara diatur dalam Undang-undang. Negara ini harus dijauhkan dari perpecahan. Misalnya paham radikal harus ditangkal, dilawan,” ujarnya.

Salah satunya, lanjut Mahfud, dengan tidak memperdebatkan istilah radikal. Ada yang memaknai radikal sebagai hal positif, ada juga yang menganggapnya buruk. Padahal paham radikal adalah cara menyelesaikan sesuatu dengan mendasar, sehingga menemukan solusi.

“Namun ada arti radikal yang jelek, yaitu selalu menganggap orang lain salah, ingin mengubah sesuatu sistem yang sudah disepakati bersama-sama, mapan sebelumnya, dengan kekerasan,” tambahnya.

Mahfud memaparkan, dalam konteks hukum, sebuah kata memiliki arti umum dan arti stikulatif. Dalam konteks hukum, istilah radikal sendiri sudah diartikan dan diatur dalam Undang-undang Nomor 5/2018.
Dia menyayangkan banyak pihak yang dia sebut “orang-orang genit” di Indonesia yang membuat banyak persoalan tak kunjung selesai. “Maka dari itu gunakan sudut pandang hukum saja,” tegasnya.

Gubernur DIJ Sultan HB X yang turut hadir menyampaikan, keberagaman Indonesia sebagai kekuatan dahsyat yang disegani oleh bangsa lain dengan penuh hormat.
“Inilah realitas bhinneka budaya kita, di mana baju kesatuan disulam, dengan dasar kecintaan terhadap tanah air. Harus dirawat dengan rasa memiliki,dengan kerja sama dan persatuan bersama, maka Indonesia akan maju dan gemilang,” ungkapnya.

HB X mengajak semua pihak untuk merawat persatuan yang berarti proaktif menjaga kelestarian budaya. “Alangkah eloknya, jika keberagaman terjalin dalam serat yang menguatkan.”

Rektor UII, Fathul Wahid menambahkan, bangsa Indonesia sudah seharusnya menolak segala bentuk anti-persatuan dan menafikan keberagaman. “Bagaimana kita menghargai sahabat kita yang berbeda, menghargai kawan kita yang berbeda pandangan dengan kita. Karena itu, persatuan yang sudah dibangun dan sudah menjadi pijakan pembangunan selama ini jangan sampai dirusak,” ujarnya. (sky/tif)