RADAR JOGJA – Untuk menjaga keindahan dan kebersihan wilayah Malioboro, Komunitas Kawasan Malioboro menghelat kegiatan ronda kebersihan dan penanaman pohon anggrek di beberapa titik di kawasan yang jadi salah satu ikon Kota Jogja itu. Kegiatan ini di sela acara Selasa Wage Selasa (14/1).

Ronda kebersihan dan aksi tanam anggrek ini merupakan tindak lanjut dari program Total Care kebersihan Malioboro yang pernah diluncurkan. Juga Maskot Jaka Lisa (Jaga Kebersihan, Lihat Sampah Ambil) dan Siber.Kom (Sistem Kebersihan Komunitas).

Ketua Presidium Kawasan Malioboro Sujarwo mengatakan, alasan khusus lainnya untuk membantu Pemkot Jogja mengatasi keluhan banyaknya sampah pengunjung tiap Selasa Wage.

“Ini bukti semua orang merasa bagian dari Malioboro. PKL punya gerakan Jaga Lisa, mereka ronda kebersihan. Mereka menanam anggrek. Mereka merasakan bahwa Malioboro adalah bagian dari kehidupan mereka,” ujar Sujarwo di sela kegiatan ini.

Ronda Kebersihan Selasa Wage bekerjasama dengan relawan Universitas Cokroaminoto dan Laznas Al Azhar. Saat ronda, relawan membawa dan sesekali memukul kentongan sambil berjalan menelusuri Jalan Malioboro. Mereka mengingatkan pengunjung untuk menjaga kebersihan.

“Relawan sekaligus juga memberi contoh kepada pengunjung dengan mengutip sampah yang berserakan dan menaruhnya ke tempat sampah,” terangnya.

Selain ronda, komunitas juga melakukan gerakan menanam bunga anggrek di pepohonan Malioboro. Penanaman bunga anggrek umum dilakukan di wilayah Kotabaru dan beberapa titik lokasi Kota Jogja. Namun, untuk Malioboro gerakannya berbasis komunitas.

“Kami menanam anggrek jenis bulan. Tanpa mencederai dan melukai pohon tempat bunga anggrek bersandar,” jelasnya.

Walaupun pohon yang ditanami masih terbatas, dia mengaku akan menarik hotel, mal, dan perusahaan untuk bersama-sama mendukung program ini. “Bila kelak dalam evaluasi selama satu tahun menuai respons positif, bisa saja program ini kami tularkan ke seluruh Kota Jogja,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu juga ada peluncuran maket desain PKL Jalan Wahidin, Kota Jogja. Ini terjalin berkat kerja sama antara komunitas dengan Fakultas Arsitektur dan Desain UKDW. Konsep PKL menjunjung keindahan dan kebersihan.

“Modelnya model lipat. Dia bisa menjadi furniture sehingga bisa didudukin. Namanya street furniture. Satu pertemuan lagi untuk penyempurnaan, lalu kami buat supaya bisa diujicoba di lapangan dan dinilai,” tuturnya.

Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi (HP) berharap gerakan yang dicanangkan dapat berkembang secara menyeluruh, sehingga Malioboro dapat terus terjaga. “Saya harap masyarakat bisa juweh atau harus sering ngelingke dan menasihati,” tuturnya.

Malioboro, lanjutnya, telah dikenal secara luas sehingga perlu adanya upaya menjaga kawasan itu dengan mengedepankan standar internasional. “Misalnya dalam menjaga kebersihan, higienitas, ketertiban, keamanan, dan keteraturan,” tandasnya. (tor/laz)