RADAR JOGJA – Pemprov DIJ menyoroti kapasitas sabo yang ada di sepanjang sungai sekitar hulu Gunung Merapi di Sleman. Sebab, saat terjadi erupsi Merapi pada 2010, sabo yang ada tidak mampu menahan seluruh lahar yang keluar dari puncak Merapi.

Saat itu sejumlah 244 sabo dam penahan lahar dingin penuh dengan material vulkanik. “Saat itu (2010) sabo langsung penuh. Dikhawatirkan bisa membeludak dan lahar bisa masuk mendekati kawasan kota,” jelas Kepala Badan Koordinasi dan Penanaman Modal (BKPM) DIJ Arief Hidayat saat menemui delegasi Jepang yang berkunjung di Kepatihan Jogjakarta belum lama ini (13/1).

Salah satu tema yang dibahas dalam pertemuan itu tentang sabo. Sabo merupakan teknologi pengendalian sedimen asal Jepang. Di DIJ, sabo didirikan di sepanjang sungai sekitar hulu Gunung Merapi untuk menahan aliran lahar dingin dan meminimalisasi potensi dampak kerugian akibat banjir lahar.

Menurut Arief, membangun sabo baru bukan menjadi solusi menahan lahar saat erupsi Merapi. Sebab, masih ada alternatif lain dengan melakukan manajemen mitigasi agar beban sabo dapat berkurang.

Arief mencontohkan mitigasi melalui pembangunan dan pembenahan jalan atau akses transportasi agar lahar dingin yang tertampung bisa dialihkan menggunakan kendaraan pengangkut. “Ini yang diusulkan Gubernur (DIJ Hamengku Buwono X), supaya Jepang bisa membantu proses manajemen mengurangi beban sabo di atas (Merapi),” jelasnya.

Selain itu, letak sabo yang jauh dari permukiman membuat akses jalan makin dibutuhkan. Selama ini penduduk tidak mau ke sabo karena lokasinya jauh dari rumah mereka. “Penduduk belum mau ambil karena jaraknya jauh. Kalau ada alat dan akses transportasi, jarak bisa berkurang. Jadi, pembangunan sabo baru belum diperlukan ” tambahnya.

Selain sabo, dalamkesempatan itu pemprov juga menjalin kerja sama teknologi terkait manajemen bencana gempa tektonik. “Termasuk pembangunan gedung tahan gempa,” tandasnya.

Kepala Delegasi Jepang Iwai Shigeki mengatakan, kerja sama di bidang sabo sangat berguna untuk menangani bencana alam di DIJ. Sabo berperan penting menjamin keamanan dan kekayaan masyarakat.

“Saya dengar bahwa letusan Gunung Merapi terjadi dalam siklus empat tahunan. Oleh sebab itu, sabo sangat berperan penting dalam menjaga keamanan,” katanya.

Menurutnya, pemerintah Jepang sudah menerapkan dan mengembangkan teknologi sabo dalam jangka waktu lama. Pemerintah Jepang sangat menghargai suara masyarakat lokal. “Kami terus menerus mendengar suara masyarakat setempat. Jadi, kami mempertimbangkan untuk membentuk sabo di DIJ,” tandasnya.

Dia menyambut baik usulan gubernur DIJ untuk mengurai beban sabo di sekitar wilayah Merapi. “Kami berdiskusi untuk pembenahan kanal di Gunung Merapi supaya bisa membawa lahar yang terkumpul di sabo dari atas ke bawah,” tuturnya. (tor/amd)