SALAH satu kenakalan remaja adalah perilaku ”klithih”. Istilah klithih mengalami pergeseran makna. Klithih awalnya bermakna aktivitas bepergian senja atau malam hari untuk mendapatkan sesuatu, misalnya mendapatkan makanan atau mendapatkan uang. Sedangkan makna klithih sekarang menjadi aktivitas bepergian untuk mencelakai orang lain. Klithih bergeser menjadi upaya kriminal atau kenakalan remaja dengan membuat kerugian pihak lain atau menimbulkan korban.

Kenakalan remaja selalu membuat resah di lingkungan keluarga, sekolah bahkan membuat resah masyarakat umum. Beberapa kenakalan remaja yaitu pencurian, perkelahian anak sekolah dan melibatkan antar sekolah, menjadi pecandu pornografi, aksi coret-coret tembok atau pada tempat yang tidak semestinya.

Kenakalan remaja akhir-akhirnya ini telah masuk ke tahap kenakalan yang menimbulkan korban fisik pada orang lain dan bahkan masuk kategori kriminalitas. Pelaku kenakalan remaja melakukan pembacokan ke pada orang lain di malam hari secara acak. Siapapun yang ditemui bisa jadi menjadi korban. Masyarakat sekarang menyebut pelaku kenakalan remaja ini dengan klithih.

Bisa jadi pemicu pelaku klithih adalah mencari identitas peran. Klithih merupakan upaya mencari identitas walaupun identitas ini bersifat negatif. Pelaku klithih masih dalam kategori remaja, sebab remaja ini bisa dibilang kontrol dirinya belum matang. Remaja ini gagal membedakan tingkah laku yang diterima masyarakat dan yang tidak dapat diterima masyarakat.

Penyebab lain klithih bisa jadi dipicu oleh orang tua mereka sendiri. Keluarga atau orang tua jarang mengawasi anak-anak remajanya dan pola disiplin di keluarganya tidak berjalan efektif. Pengaruh teman sebaya juga menjadi pemicu utama terjadinya klithih. Berteman dengan pelaku klithih meningkatkan risiko terpapar menjadi pelaku kenakalan remaja. Seberapa sering remaja melakukan tindakan antisosial maka meningkatkan peluang menjadi pelaku klithih.

Semakin meningkatnya kegiatan bersama atau kumpul-kumpul remaja di malam hari tanpa tujuan yang jelas, bisa juga menjadi pemicu terjadinya klithih. Kumpul-kumpul tanpa tujuan yang jelas ini menimbulkan spirit de crops (semangat kelompok). Maka apabila semangat ini tidak tersalurkan kepada hal positif, remaja akan melakukan klithih dan ingin adanya pengakuan bahwa kelompok mereka lebih kuat daripada kelompok lain. Sehingga timbullah perkelahian antar kelompok. Dan paling parahnya melakukan klithih secara acak.

Muncul rasa setia kawan, rasa solidaritas, loyalitas demi kelompoknya apabila ada kelompok lain yang lebih hebat. Remaja tidak mau kalah sama kelompok lain. Mereka bersaing dalam mendapatkan pengakuan identitas walaupun identitas yang dilakukan negatif. Akibat klithih ini bisa jadi adanya korban yang cidera dan bahkan ada yang meninggal dunia serta rusaknya fasilitas umum.

Dibenak remaja pelaku klithih ini cara yang paling efektif untuk memecahkan masalah mereka adalah kekerasan agar tujuan mereka tercapai (pengakuan identitas). Upaya untuk meminimalkan klithih bisa dilakukan kerjasama ahli. Sekolah melibatkan psikolog, konselor, ahli pencari bakat remaja atau ahli-ahli lain yang berkompeten di bidang kenakalan remaja. Ahli-ahli ini diminta mengisi di jam mata pelajaran atau jam pelajaran bimbingan konseling. Sebab klithih tidak dapat diselesaikan dengan ceramah dan pidato saja tetapi lebih dalam perbuatan nyata.

Terakhir peran keluarga harus menjadi garda utama meminimalkan klithih. Keluarga atau orang tua harus menciptakan rumah tangga yang harmonis dan beragama. Suasana keluarga dibangun agar lebih taat dan takwa kepada Allah. Memberikan kasih sayang secara wajar kepada anak-anaknya. Dan yang terpenting adalah melakukan pengawan secara wajar terhadap pergaulan remaja di keluarganya. (ila)

*Penulis merupakan staf Depatment of Quality Assurance Universitas Aisyiyah Jogjakarta dan tim siaga bencana Universitas Aisyiyah Jogjakarta.