RADAR JOGJA – Kelompok Keraton Agung Sejagat pernah menggelar ritual di Magelang. Kelompok yang berkegiatan di Purworejo tersebut mengadakan ritual di Gunung Tidar pada Mei 2019 lalu.

Heri Setyawan, 50, salah seorang petugas jaga di Gunung Tidar mengaku pernah menyaksikan ritual tersebut. “Saya ingat setelah menonton televisi (tentang heboh Keraton Agung Sejagat). Oh, ini yang dulu pernah mengadakan ritual,” jelasnya saat ditemui Radar Jogja Rabu (15/1).

Menurutnya, ratusan orang dengan seragam lengkap arak-arakan naik ke puncak Gunung Tidar mulai sore sampai subuh. ”Awalnya saya kira dari Keraton Jogja. Tapi kok janggal. Keraton kok pengikutnya dari banyak daerah,” jelasnya.

Menurut Heri, kostum yang mereka pakai dalam ritual di Gunung Tidar sama persis seperti dengan dipakai saat mereka mengumumkan pendirian kerajaan di Dusun Pogung Jurutengah, Bayan, Purworejo. Dalam ruwatan tersebut, ”raja” dan ”ratu” kelompok itu yakni Toto Santoso dan Fanni Aminadia memakai pakaian ”kebesaran”. Sedangkan para pengikutnya terdiri perempuan dan laki-laki.

Di antara pengikut itu ada yang memakai pakaian ala prajurit. Ada juga yang memakai jubah warna putih. Sedangkan pengikut perempuan, ada yang memakai prajurit. Namun, ada pula yang memakai semacam kebaya.

”Kebetulan waktu itu ditugaskan oleh UPT suruh jaga di atas (pintu masuk Gunung Tidar). Di atas seperti merapalkan doa. Lalu menyembelih puluhan ayam. Paginya saya ikut membersihkan lokasi. Ada ayam yang masih hidup, saya kasihkan tetangga,” tuturnya.

Di bagian atas Gunung Tidar, mereka membakar kemenyan. Darah hasil sembelihan ayam dialirkan di sekeliling sejenis tugu bertuliskan huruf palawa ”Sa” membentuk lingkaran yang telah digali sebelumnya. Setelah itu dikubur.

Sedangkan ayam hasil sembelihan dilarung di sungai. ”Waktu itu ada yang minta (untuk dibawa pulang). Tapi, tidak boleh, karena mau dilarung di sungai,” jelasnya.

Selain itu, di pertengahan doa, mereka rebutan tumpengan yang berisi berbagai macam hasil bumi. ”Pada buat rebutan. Mungkin bisa melancarkan rezeki atau apa,” jelasnya.

Juru kunci Gunung Tidar Sutijah, juga mengaku pernah ada ritual semacam itu. Namun, dia tidak mengetahui siapa yang melakukannya.

”Memang ada ramai-ramai. Tapi, karena tidak ada pemberitahuan, saya tidak tahu. Saya juga tidak ingin mencari tahu,” jelasnya. (asa/amd)