RADAR JOGJA – Stasiun Klimatologi (Staklim) BMKG Jogja mencatat adanya anomali cuaca selama sepekan ke depan. Berbanding dengan cuaca ekstrem, kondisi cuaca kali ini justru sangat cerah hampir sepanjang hari. Kondisi ini dikenal dengan istilah Monsun Break atau jeda hujan.

Kepala Staklim BMKG Jogjakarta Reni Kraningtyas menuturkan fenomena ini adalah gangguan cuaca sesaat. Monsun break berpotensi terjadi selama musim penghujan meski frekuensinya sangat jarang terjadi.

“Penyebabnya intrusi massa udara dari Australia yang bersifat kering dan masuk ke Jawa hingga mencapai¬† Sulawesi. Baru kali ini terjadi. Prediksi kami kondisi ini bertahan lima hingga tujuh hari kedepan,” jelasnya, Jumat (17/1).

Reni menuturkan kondisi cerah susah terprediksi, atau terjadi dalam kurun waktu tertentu.  bisa berlangsung dari pagi hingga malam atau terjadi di pagi hari, siang atau malam harinya.

“Seperti hari ini kondisinya sangat cerah sekali. Bisa saja besok sebaliknya. Tapi kami akan selalu me-update informasi secara berkala,” ujarnya.

Dampak anomali ini, lanjut Reni, tergolong signifikan, dari segi kesehatan dapat menurunkan kondisi kekebalan tubuh. Pihaknya mengimbau masyarakat untuk bisa menjaga stamina. Terutama menghindari dehidrasi akibat cuaca yang panas.

Reni berpesan juga agar petani tidak tertipu untuk masa tanam. Dia mengimbau petani untuk berkonsultasi terlebih dahulu kepada pakar maupun instansi terkait.

“Petani supaya lebih banyak berkoordinasi dengan dinas pertanian, terkait dengan masa tanam dan perairan. Jangan sampai terkecoh dan menjadi gagal tanam,” imbaunya. (dwi/tif)