RADAR JOGJA – Pengikut atau anggota Keraton Agung Sejagat (KAS) yang mendeklarasikan di Pogung Jurutengah, Bayan, Purworejo, mulai berani muncul untuk memberi kesaksian. Termasuk warga Kulonprogo yang ikut menjadi anggota keraton yang diklaim memiliki kekuasan di seluruh dunia ini.

Salah satunya Kasnan, 40, warga Dusun Conegaran, Triharjo, Wates. Sebagai anggota, ia mengaku telah berutang jutaan rupiah untuk ikut kegiatan yang digelar KAS. Mendengar raja dan ratu KAS ditangkap polisi dan keratonya disegel, hanya penyesalan yang dirasakan.

“Saya sudah kapok, menyesal banget karena harus berakhir seperti ini,” ucap Kasnan sembari menunjukkan seragam di kediamannya, Jumat (17/1). Kasman sendiri bergabung KAS sekitar 10 bulan terakhir. Tepatnya awal 2019, ia diajak kawan untuk berkumpul di tempat Sudadi, 70, warga Desa Plumbon, Temon, menjadi anggota. Sebelumnya ia diberi tahu bahwa KAS adalah organisasi yang fokus untuk kegiatan sosial kemanusiaan.

“Sempat juga disinggung janji-janji uang ratusan juta yang akan diterima para anggota. Dengan alasan kemanusiaan, saya tertarik bergabung, tetapi tidak menyinggung soal kerajaan,” jelasnya.

Kasnan sendiri baru tersadar jika KAS sebuah “kerajaan” yang dipimpin Totok Santoso. Ia juga sempat mengikuti kirab di lokasi kerajaan itu di  Desa Pogung Juru Tengah, Bayan, Kabupaten Purworejo, beberapa waktu lalu. “Saya malah baru tahu ketika ikut kirab, kok jadinya malah kaya gini, ada keraton-keraton segala,” ujarnya.

Menurutnya, selama menjadi anggota KAS ia sudah menggelontorkan sejumlah uang. Misalnya biaya pendaftaran Rp 1,5 juta. Ada juga iuran, termasuk operasional saat mengikuti kegiatan yang harus ditanggung sendiri dan seragam Rp 2 juta.

Ironisnya, ia harus berutang karena memang tidak punya penghasilan tetap. “Seragam sampai sekarang malah belum lunas,”  ujar pria yang kesehariannya sebagai buruh serabutan ini.

Tidak hanya kecewa, ia juga merasa sakit hati dan menyatakan tidak akan pernah bergabung dengan organisasi semacam itu lagi. Kendati demikian, Kasnan mengganggap hal ini sebagai musibah dan menjadi pelajaran berharga di kemudian hari.

“Saya ambil hikmahnya saja. Saya tidak menuntut si pendiri KAS yang kini sudah diamankan Polda Jateng. Saya berharap ada pendampingan buat temen-temen lain, karena masalah ini berdampak pada mental para korban,” ungkapnya.

Anggota KAS lainnya, Sudadi, 70, warga Plumbon, Temon,  mengungkapkan hal senada. Ia kini hanya bisa pasrah terhadap uang jutaan rupiah yang telah digelontorkan untuk Keraton Agung Sejagat (KAS) raib bersama penangkapan pendiri Toto Santoso oleh jajaran Kapolda Jateng, Selasa (14/1) lalu.

“Saya hanya prihatin, kenapa kok bisa terjadi seperti ini. Semula ada harapan yang dijanjikan, karena sudah begini, ya ambil hikmahnya saja,” ungkapnya.

Ditegaskan Sudadi, ia mengenal Toto Susanto sebelum KAS (sebelumnya bernama World Empire) pada sekitar 2018. Sama dengan anggota lainnya, ia juga harus membayar biaya pendaftaran sebesar Rp 2,1 juta, iuaran bulanan, biaya operasional yang ditanggung sendiri, dan yang terakhir membayar seragam dinas keraton senilai Rp 2 juta.

“Sudah banyak kalau dihitung-hitung,” tegas mantan kepala Desa Plumbon ini. Diberi gelar atau jabatan maha menteri, ia bertugas mengkoordinasi para menteri. Laiknya menteri koordinator di struktur pemerintahan Indonesia, gaji yang dijanjikan mencapai ratusan juta rupiah per bulan.

Namun, harapan palsu menguap semu, sang pendiri kerajaan diringkus polisi, gaji yang dijanjikan hanya menjadi angan. Kendati demikian, meskipun mengaku sebagai korban, ia tidak ada niat menuntut Toto.

“Saya pilih jalur kedamaian dan memaafkan apa yang sudah mereka perbuat. Ini saya anggap sebagai musibah. Saya sudah berkomunikasi dengan teman-teman yang sama menjadi korban, dan saya tidak menuntut Pak Toto. Ini juga musibah bagi beliau,” ucapnya.

Sementara itu, Kapolres Kulonprogo AKBP Tartono menyatakan, pihaknya masih dalam proses pendataan terhadap sejumlah warga yang terindikasi ikut dalam dalam keanggotaan KAS. Sejauh ini polisi baru mengantongi satu nama (Sudadi).

“Meskipun memiliki peran untuk mempengaruhi warga lain bergabung ke KAS, statusnya tetap korban. Sebab Sudadi sendiri juga tidak tahu jika KAS akan berakhir dengan cara seperti itu. Saya hanya mengimbau kepada seluruh masyarakat Kulonrogo, jangan mudah terpengaruh iming-iming jabatan, materi, pangkat atau sebagainya yang dijanjikan organisasi semacam KAS,” ucapnya. (tom/laz)