Sebelum berkarir sebagai pelatih, Muhammad Ardhi Lazuardi merupakan seorang atlet polo air yang memiliki segudang pengalaman. Berbagai kejuaraan dia ikuti, baik skala nasional maupun internasional. Hingga, memutuskan menjadi pelatih pada tahun 2010.

ANA R. DEWI, Jogja, Radar Jogja

RADAR JOGJA – KIPRAH Ardhi sebagai pelatih polo air Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) terbilang cukup cemerlang. Pria kelahiran Jogjakarta, 18 Mei 1979, itu berhasil mengantarkan kontingen polo air DIJ berprestasi di sejumlah ajang.

Di antaranya mengantarkan DIJ meraih juara 3 Kejuaraan Nasional (Kejurnas) polo air U-17 mixed, Jakarta 2011; peringkat 9 nasional Pra-Pekan Olahraga Nasional (PON) polo air putra dan putri 2011; peringkat 4 nasional (Tim B) invitasi polo air U-17 mixed Jogjakarta 2011; peringkat 4 dan 5 putra kejurnas polo air U-19 Bandung 2012.

Kemudian, membawa tim putra meraih medali perunggu pada liga polo air Indonesia putaran ke III 2013 di Surabaya, menyabet medali perunggu pada kejuaraan polo air Legawa Cup U-16 mixed Bali 2015, meloloskan tim polo air putra dan putri DIJ ke ajang PON XIX 2016, terbaru sukses meloloskan tim polo air putra dan putri DIJ di ajang PON Papua XX 2020 mendatang. Dan masih banyak lagi.

Selain menjadi pelatih DIJ, Ardhi juga pernah melatih Timnas polo air putra pada Asian Age Championship (AASF) 2011, menjadi pelatih Timnas polo air putri pada kejuaraan Asian Age Championship (AASF) 2014, dan menjadi pelatih Timnas SEA Games 2015.

Kendati lahir di Jogjakarta, kiprah Ardhi sebagai atlet justru dimulai dari ujung barat pulau Indonesia, yakni Jambi. Maklum saja, saat duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) keluarganya harus pindah ke Jambi lantaran urusan pekerjaan.

Ardhi berkisah, sekitar tahun 1990 hingga 1994 dirinya merupakan atlet renang. Tepatnya saat berusia 15 tahun. Kala itu anak kedua dari tiga bersaudara ini dilatih pelatih renang asal Jambi Radja Murnisal Nasution. Nah, pada tahun 1993-1995, Ardhi mulai menjajal olahraga polo air. “Jadi kalau ada pertandingan polo air saya latihan polo air, kalau ada pertandingan renang saya ikut latihan renang,” ungkapnya.

Namun, dikatakan Ardhi, sejak 1995 ia mulai serius menekui olahraga polo air. Pria berusia 40 tahun itu tercatat sebanyak dua kali membela Jambi dalam ajang PON dan sekali membela Jawa Timur. Juga pernah mengikuti tiga edisi SEA Games pada 1995, 1997, dan 1999.

Dalam puncak karir sebagai atlet, dia berhasil mempersembahkan medali perak untuk Indonesia pada SEA Games 1997 dan medali perunggu di SEA Games 1999 Brunei Darussalam. “Saat itu saya masuk pelatnas SEA Games dan pernah satu bulan di Rumania untuk try out,”  kenang Ardhi.

Berkat sederet prestasi yang ditorehkan, pada tahun 2000 Ardhi menjadi PNS melalui jalur atlet berprestasi SEA Games bersama rekan-rekan atlet lainnya dari Jambi. Hingga kini sudah 10 tahun ia menjadi seorang pelatih. “Ya, sejak 10 Oktober 2010 saya melatih polo air DIJ,”  ujarnya.

Tak hanya sebagai pemain dan pelatih, Ardhi juga pernah ditunjuk sebagai wasit mewakili Indonesia di ajang SEA Games 2011. Juga menjadi wasit pada ajang Betawi Cup Internasional Waterpolo Tournament 2012, wasit PON 2012/2016, dan wasit Asian Games 2018.

Saat ini, Ardhi tengah fokus mempersiapkan tim polo air DIJ untuk berlaga di ajang PON Papua, Oktober mendatang. Ia memiliki dua target untuk polo air DIJ. Pertama, ingin mengantarkan lebih banyak lagi atlet-atlet DIJ yang mewakili Timnas Indonesia.

Lalu, keinginan lainnya, berjuang membawa atlet potensial DIJ agar menjadi juara di ajang PON Papua. “PON kali ini sangat kami tunggu untuk bisa mencetak sejarah. Insya Allah tahun ini bisa kami wujudkan,”  tekad Ardhi.

Selain itu, Ardhi juga sangat berharap olahraga polo air bisa lebih maju dan diperhatikan untuk ke depannya. Sebab, masih cukup sulit membina olahraga polo air di DIJ. Bahkan untuk kolam latihan saja timnya sangat kesulitan dan harus menyewa. “Karena di luar sana saya dulu atlet, kolam renang tempat latihan, fitnes, dan perlengkapan lainnya sudah tersedia dan gratis,” paparnya. (laz)