RADAR JOGJA – Gelombang protes kekecewaan suporter PSS Sleman kepada manajemen semakin membesar. Kali ini datang dari kelompok suporter Brigata Curva Sud (BCS). Bahkan, BCS memberikan ultimatum kepada manajemen klub agar segera memenuhi delapan tuntutan yang mereka ajukan.

Di antaranya, program pembinaan dan akademi usia muda PSS, mess untuk pemain, lapangan untuk berlatih, membenahi marketing dan bussines development, memanfaatkan media klub sebagai pusat informasi dan publikasi, menghapus peran dan posisi ganda di tubuh manajemen. Selain itu penyelenggaraan pertandingan yang profesional, penyelenggara pertandingan dinilai gagal mengelola dengan baik, dan standar operasional prosedur (SOP) yang jelas dalam perusahaan.

Sebetulnya, tuntutan itu sudah disuarakan sejak musim lalu. Hanya saja, delapan tuntutan yang diajukan belum dipenuhi manajemen. Nah, puncaknya terjadi Jumat (17/1) saat manajemen PSS mengumumkan pelatih anyar PSS Eduardo Perez Moran. Baik BCS maupun Slemania dibuat patah hati dan kecewa lantaran PT PSS tidak memperpanjang kontrak pelatih musim lalu, Seto Nurdiyantara. Padahal, menurut mereka, Seto adalah pelatih hebat yang mengantarkan PSS finish di peringkat ke-8 klasemen Shopee Liga 1 2019. Selain itu, manajemen juga dianggap tidak profesional dan mengalami kemunduran.

Gaung protes sejumlah suporter pun langsung ramai dan sempat menjadi trending di media sosial Twitter. Bahkan, sejumlah suporter yang kecewa menyegel kantor PT PSS yang ada di Maguwoharjo. Mereka membentangkan spanduk bertuliskan “In Seto We Trust”, meletakkan karangan bunga, juga menaburi bunga tepat di depan kantor PT PSS. Selain itu, di area pagar Stadion Maguwoharjo juga dipasang spanduk bernada kritik.

Ancaman dari suporter pun semakin nyata. Sebab, apabila manajemen tidak memenuhi tuntutan itu, BCS sudah bertekad untuk memboikot pertandingan PSS di stadion.

Media Guide BCS Aand Andrean mengatakan, suporter benar-benar dibuat kecewa dengan sikap manajemen. Menurutnya, sikap dan tuntutan BCS terhadap manajemen merupakan hasil kesepakatan bersama.

“Ya, intinya sudah kami sampaikan di media sosial Twitter kami. Bahwa manajemen klub telah gagal merangkul pihak-pihak yang berkompeten dan berprestasi untuk PSS,” katanya, Jumat (17/1).

Lebih lanjut Aand menyebut, sejauh ini beberapa keputusan manajemen sangat bertolak belakang dengan yabg diharapkan. Sehingga membuat sebagian besar suporter tidak habis pikir. “Kecewa pasti, gairah kami untuk mendukung tim jadi berhenti seketika karena keputusan-keputusan itu,” paparnya.

Dikatakan Aand, saat ini BCS masih menunggu respons yang diberikan manajemen. Termasuk terkait langkah yang dilakukan BCS untuk ke depannya. “Tidak ada demo. Sementara cuma itu yang kami lakukan,” tambahnya.

Sementara itu, saat dikonfirmasi manajemen PSS memilih bungkam. Hingga kemarin, manajemen enggan memberikan tanggapan atas tuntutan suporter Sleman itu. (ard/laz)