RADAR JOGJA – Film horor Sebelum Iblis Menjemput (SIM) Ayat 2 yang rilis pada 27 Februari mendatang bakal menebarkan ketegangan. Trailer film ini pun sudah dirilis, dari cuplikan filmnya saja suasana horor sudah sangat terasa.

Film ini menceritakan sosok iblis yang haus jiwa. Trailer dibuka dengan adegan flashback Aflie yang dperankan Chelsea Islan dan adiknya Nara yang diperankan Hadijah Shahab. Pada cerita sebelumnya, kedua tokoh ini berhasil lolos dari jemputan maut iblis. Rupanya teror tak terhenti di situ. Kisah buruk masih berlanjut.

Peristiwa tersebut hanyalah awal mula munculnya mimpi terburuk Alfie. Sekali lagi, tokoh ini bersama adiknya harus kembali berjuang. Menyelamatkan diri dari sebuah teror iblis yang sangat berbahaya. Arwah iblis bangkit mengincar Alfie, Nara dan semua yang terlibat dalam lingkaran setan.

”Film pertama, teror iblis berpusat di keluarga yang mempunyai masalah kompleks. Nah di film kedua, jalan ceritanya lebih lebar karena Alfie merasa jadi stranger di antara banyaknya karakter. Namun karena suatu hal Alfie harus bersatu dengan mereka untuk memecahkan misteri,” jelas Chelsea dalam rilis yang diterima Radar Jogja, Sabtu (18/1).

Hal yang sama juga diutarakan oleh Baskara Mahendra. Sosok ini memerankan karakter Budi dalam film SIM Ayat 2. Tantangan tertinggi mewujudkan ketakutan dalam setiap adegannya. Naskah yang didalaminya memiliki karakter kisah yang kuat.

Satu lagi pemain yang cukup menarik perhatian adalah Shareefa Daanish. Dia sudah beberapa kali bermain film horror. Film SIM Ayat 2 menjadi ajang reuni dirinya dengan Timo setelah Rumah Dara (2009).

Bergabungnya Shareefa bakal menambah sentuhan  horror film SIM Ayat 2. Sosok Shareefa  menjadi nilai tersendiri. Beragam tanggapan muncul sejak nama ini muncul. Terutama tentang aktingnya sebagai tokoh bernama Jenar.

”Timo adalah sutradara favorit saya, dia teman saya lebih dari 10 tahun dan saya selalu mau bekerjasama dengan dia termasuk SIM Ayat 2. Selalu ada tantangan tersendiri untuk menghidupkan sosok Jenar,” katanya.

Sang kreator film Timo Tjahjanto mengaku ingin menghadirkan ancaman baru. Berupa ketakutan ekstrem dua kali lipat dibanding film pertamanya. Itulah mengapa dalam film ini dia menghadirkan beragam karakter. Masing-masing tokoh memiliki kejadian tragisnya sendiri.

Di satu sisi, Timo tak ingin terjebak dalam suasana yang sama. Itulah mengapa dia beralih dari horror klasik menjadi sesuatu yang baru. Film kedua kali ini lebih rock and roll. Tercermin dari pemilihan karakter tokoh. Film ini merupakan wujud kerjasama apik antara Frontier Pictures dengan Legacy Pictures dan Rapi Films. (dwi/ila)