RADAR JOGJA – Penyakit antraks di Gunungkidul sempat ditetapkan sebagai kejadian luar biasa (KLB) oleh Kementerian Kesehatan RI. Ini dilalukan pasca matinya sejumlah ternak dan adanya 27 warga yang dinyatakan positif antraks beberapa waktu lalu. Hal ini masih menjadi kewaspadaan bersama.

Sekretaris Provinsi DIJ Kadarmanta Baskara Aji mengatakan, selain pemusnahan ternak yang positif antraks, pengawasan lalu lintas serta pakan, penguatan edukasi pada masyarakat mengenai antraks juga perlu digencarkan. “Yang tak kalah penting adalah mengedukasi masyarakat, terutama peternak. Karena penularan paling mudah terjalin antara ternak ke ternak, baru pada ternak dan manusia,” jelasnya.

Dikatakan, wilayah Gungungkidul juga menjadi salah satu pusat ternak di DIJ, sehingga peran serta masyarakat, terutama peternak juga dibutuhkan untuk mengantisipasi antraks. Dia mengimbau, apabila menemui ternak mati mendadak untuk segera melapor Dinas Pertanian atau pemerintah daerah. “Kalau memang karena penyakit, jangan dikonsumsi. Ini untuk penyakit apa pun, tidak hanya antraks,” paparnya, Minggu (19/1).

Dinas terkait diharapkan dapat lebih teliti untuk mengawasi persebaran hewan ternak antardaerah. Sebab, virus antraks tidak mesti berasal dari ternak di Gunungkidul. “Bisa jadi ada orang beli ternak dari luar,” katanya.

Sedangkan Wakil Kepala Dinas Peranian (Distan) DIJ Sugeng Purwanto mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Pertanain dan Pangan Gunungkidul serta Dinas Kesehatan Gunungkidul untuk melakukan isolasi atau karantina, vaksinasi pada ternak, dan mengambil sampel.

Untuk mencegah penularan hewan ternak berpenyakit dari daerah lain, pihaknya mewajibkan seluruh ternak sapi yang masuk dengan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH). “Ternak dari luar harus dikarantina juga,” tegasnya.

Menurutnya, Distan DIJ juga memiliki keterbatasan dalam melakukan pengawasan. Jumlah petugas yang terbatas membuat truk-truk ternak yang datang tidak bisa diawasi secara detail. “Jadi yang paling penting adalah memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk lebih waspada,” tambahnya.

Pihaknya juga memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk tidak gegabah. Misalnya masyarakat perlu menaruh curiga apabila ada hewan ternak yang dijual dengan harga murah. Pasti ada sesuatu hal yang disembunyikan dari harga murah itu. “Bisa saja sapi sedang tidak sehat. Apalagi itu sapi dari daerah lain,” ungkapnya. (tor/laz)