RADAR JOGJA – Maraknya kasus antraks di Kabupaten Gunungkidul membuat pedagang daging sapi di Kabupaten Bantul turut was was, meski di Bantul belum ada temuan antraks. Mereka memastikan sebelum memesan daging harus mengetahui asal usul sapi terlebih dahulu.

Ponirah, 66, misalnya. Pedagang sapi di Pasar Bantul ini mengaku, selalu memesan daging sapi lokal Bantul sebelum akhirnya dijual kembali di Pasar Bantul. Dipastikan sapi berasal dari peternak Bantul. Selain itu, daging sapi dipastikan dipotong di rumah pemotongan hewan (RPH). Tentunya sebelum pemotongan sudah dilakukan pemeriksaan. Dipastikan sapi sehat, sehingga daging yang dihasilkannya pun baik.

“Ya ikutan was was. Apalagi dagingnya kan sulit dibedakan mana yang segar dan yang terpapar antraks,” ungkap Ponirah, warga Segarayasa, Pleret, Bantul, Minggu (19/1).

Kendati marak kasus antraks, harga daging sapi di Pasar Bantul masih stabil. Berkisar Rp 120 ribu per kilogram. Meski ada penurunan pembeli, menurutnya, itu masih wajar. Bukan hanya faktor kasus antraks, melainkan minimnya hajatan di bulan awal tahun ini. “Stok 10 kg daging sapi jadi sering sisa,” ungkapnya.

Lain halnya di tingkat pengusaha daging sapi. Ketua Paguyuban Pengusaha Daging Segoroyoso Kabupaten Bantul Ilham Ahmadi justru mengeluhkan anjloknya tingkat konsumsi daging sapi, sejak munculnya kasus antraks di Gunungkidul. “Konsumsi daging turun hingga 20 persen,” ungkapnya.
Dia mengatakan, adanya penurunan diketahui sejak seminggu terakhir ini. Adanya rasa ketakutan atau pobia menjadi pemicu warga minim mengonsumsi daging. Dari rata-rata 40 ekor sapi yang disembelih per hari, kini hanya 30 hingga 35 ekor saja.

Meski banyak pedagang yang belum paham mengenai antraks ini, pihaknya akan memastikan bahwa daging yang dia jual layak konsumsi. Sebab, sapi yang masuk ke RPH selalu dilakukan pengontrolan kesehatannya oleh pemerintah.
Sebelumnya, Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan dan Perikanan Bantul Joko Waluyo mengatakan, antisipasi sudah mulai dilakukan melalui penyemprotan disinfektan di lokasi Pasar Hewan Imogiri. Penyemprotan biasanya dilakukan sore hari usai aktivitas jual beli ternak di pasar itu selesai.

“Kami terjunkan 20 personel untuk memantau kondisi di pasar ini,” ungkap Joko. Pengawasan ketat juga dilakukan dengan menerjunkan personel Puskeswan dan melakukan pantauan hewan ternak yang masuk ke Pasar Imogiri dan melakukan pemantauan daging sapi maupun domba di pasar-pasar tradisional Bantul. (mel/laz)