Jika di perkotaan, barber shop menawarkan tempat cukur rambut yang dingin dengan berbagai fasilitas, beda dengan di Pundong, Bantul. Cukur rambut cukup dilakukan di depan pemakaman. Bagaimana kisahnya?

SITI FATIMAH, Bantul, Radar Jogja

RADAR JOGJA – Pada setiap lima hari sekali atau dalam Bahasa Jawa disebut pasaran, pasar Pundong akan ramai. Pedagang dadakan akan menggelar dagangannya. Tapi ada yang unik, yaitu deretan pemotong rambut di tepi pemakaman Klisat, Srihardono, Pundong, Bantul.

Salah satu tukang cukur Wibowo, mengatakan bahwa ia telah menjadi tukang cukur selama tiga tahun. Ia datang pada pukul 06.30. Kemarin (19/1) siang saat akan pulang Wibowo mengaku telah memangkas rambut tujuh pelanggan.

Dalam kesehariannya, Wibowo biasa berjualan pakaian. Ia memperoleh keahliannya memotong rambut secara otodidak. Wibowo menerapkan tarif senilai Rp10.000 terhadap pelanggannya. “Udah bakat, enggak ada yang ngajari. Cuma setiap pasaran,” katanya.

Tukang cukur lain bernama Kartijo telah menjadi tukang cukur di tepi makam Klisat selama dua tahun. Ia merasa bertanggung jawab untuk melestarikan giat cukur di bawah pohon tepi makam Klisat. “Untuk generasi saja. Takut punah,” katanya.

Selain itu, Kartijo mengaku mendapat banyak pelanggan saat pasaran. Ia dapat memotong rambut sampai 15 orang. “Motong ini prospeknya bagus,” tambahnya.

Tukang potong paling senior bernama Suradi, 70, biasa dipanggil Mbah Kuduk. Ia mengaku telah mangkal di tepi makam Klisat tiap pasaran sejak tahun 70-an. Sama seperti kedua temannya, keahliannya memotong rambut ia peroleh secara otodidak. “Hanya modal percaya diri,” katanya.

Saat memulai profesinya sebagai tukang cukur, Mbah Kuduk hanya memakai gunting manual. Pada 2000 ia beralih pada alat cukur listrik. Dalam kesehariannya Mbah Kuduh juga mencukur di rumah. Akan tetapi, ia merasa pendapatannya lebih banyak ketika pasaran. “Pasarnya di Pundong sama di Turi. Turi tiap pahing. Kalau wage di Pundong,” ujarnya.

Mbah Kuduk mengaku berumah tinggal di Nangsri, Srihardono, Pundong. Di sekitar rumahnya saat ini terdapat empat tukang cukur. Sehingga pendapatannya di rumah tidak setinggi pendapatan saat pasaran. “Pertama rumah saya dekat dan kenalan saya banyak. Jadi saya banyak langganan karena itu. Biasanya sehari paling 5-6 kalau di rumah. Kalau di pasar bisa 15 orang,” katanya.

Salah satu pelanggan Mbah Kuduk Ngatijah, mengatakan bahwa ia telah lama berlangganan. Ia mengaku selalu memotongkan rambutnya pada Mbah Kuduk. “Tiap cukur pasti sama Mbah. Praktis sekalian jalan. Pedagang di pasar situ, pulang ke sini. Mampir,” akunya.

Mbah Kuduk tidak menerapkan tarif tertentu terhadap pelanggannya. “Tarif terserah yang kasih,” ucapnya. (pra)