RADAR JOGJA – Banyak masyarakat yang berniat mengadopsi bayi yang dibuang di Ngemplak, Sleman, beberapa hari lalu. Mereka mengajukan diri untuk mengasuhnya. Namun, hal itu tak semudah yang dibayangkan. Sebab, harus melalui berbagai tahapan yang sudah diatur dinas sosial (dinsos).

Kepala Seksi Kelembagaan Sosial Dinas Sosial Kabupaten Sleman Elviana Lasso menjelaskan proses adopsi bayi atau anak telah diatur dalam Undang-Undang No 54/ 2007 tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak. Termasuk mengatur tata cara adopsi, sampai dengan pentingnya pengecekan kesehatan anak yang akan diadopsi setelah ditemukan warga.

Proses tersebut untuk melindungi legalitas anak agar bisa mengakses fasilitas layanan dengan mudah. Mulai dari akta lahir, pembagian warisan, sampai jaminan kesehatan. “Memang di awal susah, tapi untuk ke belakang nantinya akan dimudahkan saat mengakses layanan,” jelas Elviana, Selasa (21/1).

Menurtnya, warga yang menemukan anak atau bayi yang dibuang atau ditinggalkan, tidak serta-merta dengan mudan bisa mengadopsi. Sedangkan, masih ditemukan warga yang emosional saat menemukan bayi dan menginginkan hak adopsi.

Padahal proses dan pemenuhan persyaratan ditujukan untuk mencegah hal yang tidak diinginkan terjadi pada anak di masa mendatang.”Misalnya kekerasan, ditelantarkan, sampai anak tidak mendapatkan warisan,” ungkap Elviana.

Sekretaris Dinsos Sleman Epiphana Kristiyani menyebutkan, bila ada temuan bayi atau anak, RT/RW setempat harus segera melaporkan kepada polsek terdekat. Selanjutnya, bayi dibawa ke fasilitas kesehatan untuk mengecek kesehatan bayi.

Polsek setempat juga harus membuat surat yang nantinya akan diserahkan ke dinsos. Surat keterangan sehat juga diperlukan untuk mengetahui kondisi bayi saat surat penyerahan diserahkan. Selanjutnya, dinsos kabupaten akan membuat surat penyerahan ke dinsos provinsi. “Mereka yang nanyi akan menunjuk lembaga untuk tempat penitipan bayi temuan secara resmi sebelum diadopsi,” tutur Epi.

Di Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ), lembaga yang ditunjuk, yaitu Balai Rehabilitasi Sosial Pengasuhan Anak, Yayasan Sayap Ibu di Sleman, Gotong-royong di Bantul, dan Annur Serimpi di Gunungkidul.

Mekanisme adopsi anak, ada dua macam yaitu adopsi privat dan kelembagaan. Untuk adopsi privat, telah ada persetujuan antara keluarga kandung anak dan keluarga yang akan mengadopsi. Ditunjukkan dengan surat bermaterai yang diketahui oleh pejabat minimal tingkat kelurahan. Setelah itu, prosedur akan dilanjutkan ke tingkat dinsos kabupaten dan pengadilan negeri (PN) untuk mengesahkan.

Sedangkan untuk adopsi kelembagaan, memang menjadi ranah wewenang kerja Dinsos DIJ. Adopsi mengikuti prosedur yang telah ditetapkan undang-undang, calon orang tua adopsi hanya dapat mengadopsi anak sesuai nomor antrean yang berlaku dari Dinsos DIJ. Sesuai antrean. Dan mereka pun belum tentu dapat bayi seperti saat ditemukan bayi.”Selain itu, calon orang tua tidak bisa memilih menginginkan bayi yang mana,” ungkap Epi.

Proses yang panjang dalam tahapan mengadopsi, bukan hanya sebagai bentuk langkah penguatan keluarga, ataupun kelengkapan berkas. Karena, adopsi juga membutuhkan persetujuan dari keluarga besar pengadopsi. Bukan hanya perkara legalitas, tapi juga perlindungan anak, supaya tidak bermasalah di kemudian hari.

Menurut Epi, pada 2018 ada dua bayi yang dibuang. Sedangkan pada 2019 ada bayi yang ditinggalkan bu kandungnya setelah dilahirkan RSUP Dr Sardjito. (eno/din)