RADAR JOGJA – SMA Taruna Nusantara Magelang sukses budi daya lele. Mereka menerapkan sistem bioflok. Bibit lele diproduksi sendiri dan dipelihara sampai layak konsumsi.

SMA Taruna Nusantara berhasil melaksanakan budi daya lele. Kegiatan tersebut dilaksanakan setelah sekolah tersebut menerima hibah program budi daya lele dengan sistem bioflok.

Maulana, selaku penanggung jawab operasional program ini, menjelaskan, kali tebar benih dilakukan 4 Maret 2018. Sejak itu, para siswa SMA Taruna Nusantara terus mengembangkan metode budi dayalele.

“Kami sering mendapat kunjungan bagi mereka yang ingin belajar mengembangkan. Selain itu, ini juga wadah pembelajaran untuk para siswa,” jelasnya.

Pada dasarnya, menurutnya, bioflok diterapkan untuk memperbanyak mikroorganisme yang menguntungkan bagi ikan agar berkembang dengan baik. Salah satu kunci sukses menerapkan sistem ini adalah pengaturan jangka waktu pemeliharaan yang ketat mengikuti siklus hidup lele.

Selain itu, pengaturan nutrisi dan air juga penting. Hal ini agar lele dapat berkembang dengan baik.

Sistem ini sangat ramah lingkungan. Sebab, mengkondisikan ikan dalam ekosistem yang alami.

Selain itu, limbah dari kotoran lele juga dapat dimanfaatkan. Dipakaimenyiram tanaman sayur. Mereka mengembangkan sayuran akuaponik untuk menampung limbah air sisa bioflok.

“Sayuran yang dihasilkan lebih enak karena tidak perlu disemprot pestisida. Mulai dari loncang, cabai, tomat, dan berbagai sayuran lain dapat tumbuh subur memanfaatkan limbah sisa bioflok,” jelasnya.

Dia mengaku sempat menemui kendala. Bibit lele pernah terlambat dikirimkan. Akibatnya, banyak bibit lele mati. “Selain itu, air tumbuh lumut karena terlalu lama disiapkan. Mereka berebut oksigen,” jelasnya.

Akhirnya, di siklus kelima, Maulan dan siswa SMA Taruna Nusantara berusaha melakukan pembibitan sendiri. “Sekarang tidak beli bibit tapi sudah mulai membibitkan sendiri mulai di siklus kelima. Hasil bibit, selain dibesarkan, juga dijual,” jelasnya.

Selain lebih mudah mengatur waktu, lele hasil pembibitan sendiri lebih mudah beradaptasi. Bibit lele dibera dalam kolam terpal untuk pembesaran. Langkah ini membuat kemungkinan berhasil menjadi lebih tinggi.

“Beberapa pembudi daya di kolam terpal kesulitan karena membeli bibit dari kolam semen. Risiko ketika beradaptasi cukup tinggi,” jelasnya.

Selain membudidayakan lele untuk konsumsi, SMA Taruna Nusantara juga mengembangkan nutrisi untuk meningkatkan daya tahan tubuh lele. Ada pula cairan penghilang bau yang menguraikan amoniak dari kotoran lele. “Kolam jadi tidak bau. Lele pun lebih sehat,” jelasnya.

Menurut Maulana, saat ini budi daya lele yang dilakukan SMA Taruna Nusantara sudah memasuki siklus keenam. Untuk diterapkan secara masal masih perlu pengembangan lagi.

Namun, saat ini beberapa pembudi daya lele telah mulai melirik sistem ini. ”Sudah tidak terhitung kunjungan para pembudidaya maupun pihak instansi untuk belajar bagaimana penerapan sistem ini,” ungkapnya. (asa/amd)