RADAR JOGJA – Kepala Pelaksana BPBD DIJ Biwara Yuswantana tak ingin kecolongan terkait kemunculan virus korona. Jajarannya terus berkoordinasi lintas instansi. Mulai dari penanganan kesehatan hingga pengawasan lalulintas manusia.

Penerapan standar pelayanan minimal menjadi prioritas. Setidaknya ada tiga tahapan skema didalamnya. Diawali dengan informasi tentang kerawanan bencana. Berlanjut dengan informasi tentang pencegahan dan kesiapsiagaan bencana. Tahapan ketiga adalah penyiapan proses evakuasi.

“Dua SPM pertama kami melakukan rapat koordinasi dengan mengundang instansi terkait. Ada dari Dinas Kesehatan, perwakilan rumah sakit, Kantor Imigrasi, KKP hingga pihak pengelola bandara,” jelasnya ditemui di Pusat Pengedalian Operasional BPBD DIJ, Selasa (28/1).

Biwara memastikan belum ada suspect virus korona di Jogjakarta hingga saat ini. Walau begitu bukan berarti seluruh instansi bisa bersantai diri. Pencegahan dan deteksi dini menjadi tonggak antisipasi terpenting. Dia meminta agar seluruh instansi di Jogjakarta memahami pedoman penanangan. Terutama yang telah diterbitkan Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Artinya seluruh stakeholder wajib berkoordinasi. Sehingga manajemen penanganan bisa berlangsung optimal.

“Diawali dari KKP sebagai pintu masuk internasional. Saat ini ada dua bandara internasional di Jogjakarta, Adisutjipto dan YIA. Saat ini sudah terpasang thermal scanner di kedua bandara ini. Sangat penting untuk mendeteksi suspect korona,” katanya.

Apabila ada temuan positif maka melangkah ke rumah sakit rujukan. Untuk saat ini Jogjakarta memiliki dua rumah sakit rujukan penanganan virus Korona. Selain RSUP Sardjito adapula Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Panembahan Senopati Bantul.

Dalam tahapan ini, masyarakat memegang peran penting. Paling utama tidak terpancing atau menerima informasi tentang virus korona. Terlebih yang belum jelas asal dan sumber informasinya. Sehingga tidak muncul keresahan di kalangan masyarakat.

“Rapat saat ini memang baru tahapan pertama. Rapat berikutnya mempelajari, membahas, dan memahami pedoman itu secara lebih cermat sesuai dengan tugas masing-masing sehingga akan jelas dan terintegrasi. Siapa melakukan apa, bagaimana, standarnya seperti apa, sarana dan prasarana yang dikeluarkan seperti apa,” ujarnya.

Ketua Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi RSUP Sardjito Andaru Dahesih Dewi menuturkan gejala korona mirip flu. Diawali dengan gejala demam, lalu batuk hingga sesak nafas. Dalam tahapan ini, Andaru menghimbau agar segera periksa kesehatan ke puskesmas atau rumah sakit.
Selama proses ini, dia juga meminta adanya keterbukaan. Terutama tentang riwayat perjalanan dalam empatbelas hari kebelakang. Langkah ini untuk mengetahui lokasi persinggahan. Khususnya melacak jejak rekam penyebaran virus korona.

Langkah paling sederhana menerapkan pola hidup bersih dan sehat. Kalau batuk wajib menutup hidung dengan tisu. Selanjutnya buang tisu ke tempat sampah. Gunakan masker jika terkena infeksi saluran napas. Lalu cuci tangan setelah berbagai kegiatan.

“Baik itu batuk atau bersin, sebelum dan sesudah menyiapkan makanan, setelah menggunakan toilet atau setelah merawat binatang. Cuci tangan dengan air mengalir dengan sabun, dan bilas kurang lebih 20 detik. Kalau tidak ada air bisa pakai cairan pembersih tangan dengan kandungan alcohol 70 sampai 80 persen. Jika sedang sakit kurangi aktivitas di luar rumah dan batasi aktivitas dengan orang lain,” pesannya. (dwi/tif)