RADAR JOGJA – Kasus penyakit antraks yang terjadi di Gunungkidul belakangan tidak berdampak secara luas pada sektor wisata. Dibandingkan bulan yang sama pada tahun sebelumnya, justru terjadi peningkatan jumlah kunjungan maupun besaran Pendapatan Ali Daerah (PAD).

“Kasus antraks tidak berpengaruh terhadap sektor pariwisata,” kata Sekretaris Dinas Pariwisata (Dispar) Gunungkidul Hari Sukmono kemarin.

Berdasarkan data 1 Januari sampai dengan 27 Januari pengunjung mencapai 378.463 orang. Sementara PAD Rp 3.058.015.180. Kemudian jika dibandingkan tahun lalu justru meningkat. Januari 2019 PAD 1.470.310.630, dengan jumlah pengunjung mencapai 211.745 orang.

Bupati Gunungkidul Badingah meminta kepada wisatawan agar waspada akan tetapi jangan takut berlebihan dengan antraks. Kasus antraks sudah dalam penanganan oleh pihak terkait sehingga tidak perlu khawatir datang menikmati keindahan wisata Bumi Handayani. “Karena pernah ada laporan antraks berdampak terhadap kuliner, beberapa waktu lalu kami bersama dengan Muspida Gunungkidul (musyawarah pimpinan daerah) mengampanyekan daging aman dari antraks,” kata Badingah.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul Dewi Irawati berbagi tips cara memasak daging yang benar. Yakni direbus hingga mendidih. Setelah benar-benar matang, ditambah lagi waktu merebus sampai dengan 20 menit. “Kalau memasak daging harus matang betul. Demikian pula menjaga perilaku hidup bersih dan sehat, seperti mencuci tangan setelah beraktivitas,’’ kata Dewi.
Di bagian lain, upaya menghentikan penyebaran penyakit antraks terus digencarkan Pemkab Gunungkidul. Kini dibuat aturan tetang pengendalian lalu lintas hewan ternak khusus di wilayah suspect.

Pemkab melalui petugas gabungan terdiri dari dinas pertanian dan pangan (DPP), dinas perhubungan (dishub), Satpol PP, TNI dan Polri merazia di sekitar pasar hewan. Sasarannya, hewan ternak dari Desa Gombang, Ponjong dan dari Pucanganom, Kecamatan Rongkop. Hewan ternak didua wilayah tersebut untuk sementara waktu tidak boleh diperjualbelikan. (gun/din)