RADAR JOGJA – Kepala unit pelaksana teknis (UPT) Malioboro Ekwanto mengakui kewalahan menertibkan pelanggaran di kawasan Malioboro tanpa petugas Jogoboro. Pun juga untuk pengangkutan sampah.

“Jogoboro ada saja, ditinggal salat ada yang masih curi-curi apalagi ini (Jogoboro) tidak ada,” kata Ekwanto dihubungi, kemarin (27/1). Menurut dia, masuknya pedagang liar sebenarnya juga dirasakan seperti halnya hari biasa. Belum lagi pengemui becak dan becak motor serta ojek online yang kerap berhenti di jalur cepat Malioboro.

Dari pantauan Radar Jogja sudah ada papan peringatan di kawasan Malioboro bertuliskan, ‘Terima kasih anda tidak berjualan di kawasan nol kilometer’ tertanda pemerintah kota Jogja. Ekwanto memperkirakan, pedagang liar tersebut merupakan pedagang liar lama. Yang memanfaatkan kesempatan saat tak ada petugas Jogoboro. Ditemui mereka sering bermunculan melalui pintu masuk dari titik nol kilometer ke selatan sampai Ngejaman atau selatan Pasar Beringharjo.

Selagi pedagang liar masih kucing-kucingan memasuki kawasan malioboro yang dilarang. Namun setidaknya mereka tertib ketika adanya Jogoboro. “Kalau ada Jogoboro mereka tidak berani,” ujarnya.

Seperti diketahui, selama Januari ini Jogoboro harus off dulu. Itu karena ada perubahan penganggaran di UPT Malioboro, yang mulai tahun ini menggunakan dana keistimewaan. Untuk Jogoboro dilakukan lelang kembali. (wia/pra)