RADAR JOGJA – Sosialisasi proyek pembangunan tol Jogja-Solo kembali dilakukan. Kali ini di Desa Tirtoadi, Mlati, Sleman, Selasa (28/1). Melompat dari Kalasan menuju Mlati, hal ini lantaran banyaknya lahan terdampak tol karena akan dibangun jembatan junction (persimpangan jalan).

Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Dispertaru) DIJ Krido Suprayitno menjelaskan, Tirtoadi memiliki peranan penting dalam pembangunan tol. Nantinya Tirtoadi akan menjadi titik pertemuan dari tiga tol yang melintasi Jogja. Yaitu tol Jogja-Solo, tol Jogja-Bawen, dan tol Jogja-Kulonprogo.

Menurut Krido, ada enam padukuhan yang akan terdampak pembangunan tol Jogja-Solo. Sedangkan tahap sosialisasi dibagi menjadi tiga hari, di mana setiap harinya mengundang dua padukuhan. “Hari ini (kemarin, Red) ada dua padukuhan yaitu Rajeg Lor dan Ketingan,” ungkap Krido usai sosialisasi di Balai Desa Tirtoadi.

Ia menuturkan, sosialisasi kali ini didominasi lahan sawah yang terdampak. Secara keseluruhanada 561 bidang terdampak. Terdapat juga empat tanah kas desa yang terdampak seluas 500 persegi. Luas keseluruhan tanah di Desa Tirtoadi yang terdampak empat hektare.

Saat ini pihaknya telah memasang peta definitif sebagai dasar kepemilikan tanah. Hal ini dilakukan agar masyarakar bisa memastikan mana saja tanah yang terdampak. Selanjutnya, pihak terkait bisa mempersiapkan berkas selama tiga minggu ke depan untuk melakukan konsultasi publik.

Menurut Krido, sekitar 25 persen dari 225 pemilik tanah di Rajeg Lor dan Ketingan yang tidak hadir dalam tahap sosialisasi. Hal ini dikarenakan kepemilikan tanah yang telah berganti. Krido dibantu petugas lapangan yang telah terbentuk, akan menelusuri kepemilikan tanah agar saat konsultasi publik bisa tepat sasaran. “Karena banyak pemilik tanah di luar Desa Tirtoadi,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Desa Tirtoadi Sabari mengaku setidaknya ada enam padukuhan desanya yang terdampak tol. Selain Ketingan dan Rajeg Lor, ada Padukuhan Kaweden, Gombang, Janturan, dan Sanggrahan.
Menurut Sabari, tidak hanya 561 bidang tanah yang terdampak. Melainkan ada 277 bidang tanah lainnya yang terdampak pembangunan tol Jogja-Bawen.

“Sehingga total ada 838 bidang tanah,” ungkapnya.

Ia menuturkan, sosialisasi hari kedua nantinya akan dilakukan kepada Padukuhan Sranggahan dan Janturan, serta hari terakhir untuk Padukuhan Kawaden dan Gombang. Dalam hal ini, Padukuhan Sranggahan dan Janturan yang mayoritas bedol desa menuntut adanya relokasi.

Namun pemerintah hanya memberikan ganti untung dan menyerahkan sepenuhnya proses pemindahan kepada warga. “Banyak pemukiman di padukuhan yang terdampak. Di janturan ada satu RT, di sanggrahan ada tiga RT,” bebernya. (eno/laz)