RADAR JOGJA – Letak Yogyakarta International Airport (YIA) yang berada di bibir pantai, berdampak pada meningkatnya beragam resiko bencana seperti gempa bumi, tsunami, banjir, dan abrasi. Itupula yang menjadi perhatian Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dengan membuat buku grand design mitigasi YIA.

Grand design itu yang kini sedang dimatangkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ, guna mengantisipasi risiko bencana. Sebelum YIA beroperasi penuh pada 1 Maret mendatang.  Untuk menghadapi bencana yang umum terjadi di bibir pantai, BPBD DIJ akan melaksanakan program mitigasi vegetasi. Selain melakukan penanaman pohon, juga dibentuk struktur organisasi terkait pelaksanaan program.

“Jadi dalam waktu dekat kami akan menyusun tim pelaksana penanaman pohon di YIA,” jelas Kepala Pelaksana BPBD DIJ Biwara Yuswantara Selasa (28/1).

Tim ini nantinya yang akan mengkolaborasikan beragam unsur baik sipil, militer, dunia usaha, pemerintah, akademisi dan masyarakat. Sedangkan yang menjadi penanggung jawabnya adalah Bupati Kulonprogo. Pihak lain yang terlibat yakni Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, BPBD DIJ, Angkasa Pura, maupun TNI dan Polri.

“Tugasnya terbagi pada sektor berdasarkan kebutuhan luas lahan tertentu. Mereka akan memastikan tanaman akan tumbuh dan berkembang,” ucapnya.

Langkah selanjutnya adalah membuat perencanaan penanaman vegetasi dengan pembuatan layer berdasarkan jenis tanaman yang dapat hidup di sepanjang pantai kawasan YIA. Seperti tanaman pandan untuk layer pertama, tanaman cemara udang untuk layer kedua, dan layer ketiga akan ditanam pule.

Pohon pandan ditanam terdepan karena paling tahan terhadap angin laut yang mengandung garam. “Rencana operasi dilakukan selama tiga tahun. Karena selama tiga tahun, (pohon) relatif bisa dibiarkan untuk survive. Sebelum tiga tahun itu termasuk masa krisis,” paparnya.

Perencanaan tersebut segera diselesaikan dalam waktu dua minggu ke depan dikoordinir oleh Universitas Gadjah Mada. Sedangkan sebagai mekanisme perawatan dan pengairan untuk wilayah pesisir, tim teknis akan membuat sumur bor, pompa dan truck tangki untuk mengairi tanaman.

“Dengan begitu sabuk pantai vegetasi alami dapat menjadi pengaman dan mengurangi risiko bencana,” jelas mantan Kepala Bagian Pemerintahan Bappeda DIJ itu.

Terkait infrastukutur bandara, desainnya sudah dirancang untuk mengantisipasi bencana alam. Misalnya elevasi landasan pacu dari permukaan laut dan perangkat kelistrikan yang diletakkan di lantai dua. Pihaknya juga telah melakukan pelatihan seluruh perangkat di bandara terkait kebencanaan. “Kami juga melakukan pengecekan fasilitas evakuasi kebencanaan. Bandara sendiri didesain untuk menjadi tempat evakuasi tsunami. Crisis center di sebelah barat juga bisa dijadikan tempat evakuasi,” tuturnya. (tor/pra)