RADAR JOGJA – Cuaca yang tak menentu membuat tanaman padi rentan terserang hama. Selain hama wereng dan jamur, yang sedang marak yakni keong sawah. Air irigasi yang melimpah, membuat populasi endemik dengan nama latin Pila ampullacea ini meningkat.

Petani padi Sudiyo, 70, warga Padukuhan Ngijo, Bangunharjo, mengatakan, di antara hama yang menyerang tanamannya, hama keong yang sulit diberantas. Selama ini, dia belum menemukan cara ampuh untuk mengatasinya. Karena upaya yang dilakukan hanya mengambil keong secara manual.

Menurutnya, keong dengan populasi banyak cukup mengkhawatirkan. Sebab, dapat memakan tanaman. Apalagi saat ini padi baru memasuki masa tanam dan beranak. Tanaman padi yang terserang gagang padi mudah patah.

“Ya, sejak ada air ini keong mulai banyak,” katanya kepada Radar Jogja, (28/1).

Untuk mengantisipasi maraknya keong, waktu pengairan dilakukan dini hari.  Begitu siang, matahari terik, air yang menggenang akan mudah surut. Sehingga keong tak mudah naik dan memakan padi.

Petani lainnya, Miftahul mengakui sulitnya mengatasi hama keong. Namun, tak jarang yang membutuhkan sebagai pakan ternak. Cara mengatasinya diambil secara manual.

“Kalau untuk jamur, mengantisipasinya lebih pada pencegahan bukan pengobatan,” katanya. Pencegahan yang dilakukan dengan memupuk menggunakan pupuk kompos dan lebih mengurangi pestisida.

Petani di wilayah Banguntapan, Hasimi mengatakan, untuk meningkatkan produktivitas pertanian, cara yang dilakukan untuk mengurangi populasi keong yakni dengan membuat jegongan air di sekeliling sawah. Kemudian menebarkan daun pepaya. Begitu air mengaliri sawah, keong-keong yang berada di lahan tersebut akan bergerombol dan memakan daun pepaya. Konon, ini menjadi cara jitu untuk menanggulangi hama keong. “Dengan begitu, keong lebih mudah diambil,” katanya. (mel/bah)