RADAR JOGJA – Keberadaan Keraton Agung Sejagat (KAS) di Purworejo sempat menghebohkan masyarakat.  Esensi istana keraton yang apik dengan kostum menarik, mendapat pujian dari khalayak. Ternyata, pembuat kostumnya pasangan suami istri Wahyu Agung Santoso-Rini, warga warga Sonosewu, Ngestiharjo, Kasihan, Bantul.

Membuat kostum marching band sudah menjadi pekerjaan rutin pasutri Wahyu Agung Santoso alias Koko Santoso, 35 dan Rini, 36. Usaha ini merupakan warisan dari keluarganya yang diberi nama Putro Moelyono. Berdiri sejak 1968 dan mulai mereka teruskan sejak 2007 lalu. Usahanya tak sebatas menyediakan kostum, tetapi juga alat musik hingga properti drum band lainnya.

Munculnya KAS di Purworejo membuat usahanya turut viral. Juga membawa berkah tersendiri. Sebab, pemesanan kostum dengan beragam desain meningkat. Selain itu rumahnya ramai pengunjung. Bukan untuk bertamu, melainkan untuk berselfie ria menggunakan kostum raja dan ratu yang dibintangi Toto Santoso dan Fanni Aminadia.

“Kami tak menyangka akan menjadi viral. Ternyata yang pesan itu raja dan ratu,” ungkap Koko dan Rini saat ditemui di rumahnya, Rabu (29/1). Mereka mengakutak tahu menahu untuk apa pemesanan kostum tersebut. Mereka hanya berpikir untuk drum band atau kegiatan kirab budaya.

Mereka menceritakan, November 2019 lalu menerima panggilan  dari Fanni. Intinya, Fanni berniat memesan baju sesuai desain yang diinginkan. Pada 15 November, Fanni mendatangi kediaman Koko dan Rini. Sesuai kesepakatan, desain yang diajukan itu layaknya busana dari Brunei Darusalam.

“Dilengkapi dengan topi baret, sabuk, tali kur dan bordir sesuai permintaan Mbak Fanni,” ungkap Koko sembari menunjukkan komponen-komponen pakaian ratu yang sengaja dia buat sebagai contoh.

Desain itu cukup rumit dan detail. Koko mengaku, desain ini kali pertama dia buat. Karena tidak konvensional. Ada komponen bordir berupa motif batik. Di bagian bahu kanan dan kiri terdapat ukiran bordir aksara Jawa. Bertuliskan Keraton Agung Sejagat.

Tulisan itu tak disadari oleh Totok dan Rini. “Pesannya nggak tanggung-tanggung. Awalnya ingin pesan 500 kostum. Tapi dia pikir 300 dulu,” katanya.

Fanni memberikan waktu selama sebulan untuk menyelesaikan pesanan itu. Dari 300 kostum tersebut,  295 kostum untuk desain yang sama. Lima kostum dipesan khusus. Dua kostum pria dewasa, dua kostum untuk wanita dewasa, dan satu kostum untuk anak-anak.

Pada 6 Januari, seluruh pesanan bisa diselesaikan. Satu kostum komplet aksesoris dibanderol Rp 900 ribu. Semua sudah dibayar lunas oleh Fanni melalui transfer berkala. Totalnya Rp 270 juta. “Ya bersyukur aja waktu itu. Rezeki nomplok,” ungkap Koko.

Rini menilai, sosok Fanni memiliki kepribadian ramah. Rupanya juga ayu.  “Saat pesan itu dia datang sendiri. Bawa mobil, nyetir sendiri,” ungkapnya.

Tak selang lama kostum dikirim ke Godean atau rumah kontarakan Toto dan Fanni, muncul berita menghebohkan adanya kerajaan baru.  “Awalnya kami nggak dong. Banyak teman WA ke saya, menunjuk kostum itu buatan sini. Setelah mengetahui apa yang terjadi, rasanya kaget-kaget senang,”  tambah Rini.

Dikatakan, sebelum membuat kostum KAS, pada 2018 lalu mereka juga pernah mengerjakan aksesoris untuk Asian Games. (mel/laz)