RADAR JOGJA – Berbagai cara bisa dilakukan untuk menanamkan nilai-nilai  kepedulian terhadap lingkungan. Seperti yang dilakukan sebuah komunitas bernama Wayang Sampah. Pentas yang digelar komunitas ini mengangkat cerita atau isu dari permasalahan lingkungan.

Komunitas Wayang Sampah (Wangsa) dibentuk 2014. Pendirinya Muhammad Sulthoni, seniman asal Solo sebagai inisiator pertama dan Gilang Damar Setiadi, seniman asal Jogja, bersama kedua temannya yang lain. Mereka memiliki basecamp dengan nama “Matahari Jawa” di Solo. Basecamp mereka jadikan sebagai tempat berkumpul dan berlatih bagi para anggota Wangsa.

Awalnya, keempat orang itu mendapat ide membentuk Komunitas Wangsa saat sering mendaki Gunung Lawu. Ketika naik gunung itu, mereka melihat puluhan karung botol-botol sampah di gunung tersebut. Mereka pun resah dengan sampah-sampah itu.

Mereka berpikir bagaimana cara memanfaatkan sampah-sampah itu agar menjadi sesuatu yang berguna. Kebetulan mereka juga tertarik dengan konservasi lingkungan dan seni, hingga mulai merintis sebuah komunitas Wayang Sampah. Merreka mengkonservasi lingkungan, sekaligus juga peduli dengan budaya Jawa, dalam hal ini wayang.

Mereka menggunakan kedua formula itu untuk komunitasnya. “Yang jelas me-manage sampah plastik dengan media wayang. Dari situ nasihat-nasihat tertentu dapat dimasukkan atau disampaikan dalam cerita pewayangan,” jelas Gendes, panggilan Gilang Damar Setiadi, saat ditemui di kediamannya, Bumijo, Kota Jogja belum lama ini (28/1).

Diakui, komunitas ini ingin mengenalkan kepada masyarakat luas tentang bagaimana cara peduli terhadap lingkungannya. Cerita atau isu-isu yang diangkat dalam cerita pewayangan juga menyangkut lingkungan seperti pencemaran, masalah sampah plastik, dan sebagainya.

Kemudian dikemas sedemikian rupa menjadi pementasan yang menarik untuk menghibur penonton sekaligus mengedukasi. Cerita yang dipentaskan dibuat sendiri oleh komunitas Wangsa. “Ini menjadi alternatif cara untuk membuat masyarakat sadar akan sampah,” katanya.

Kegiatan Wangsa bukan hanya pentas wayang saja, tetapi juga terkadang workshop dan pameran. Tak jarang mereka melakukan kolaborasi dengan seniman-seniman lain, termasuk dengan seniman mancangera.

Kegiatan mereka memang tidak hanya kelas lokal saja. Selama kiprahnya sejak 2014, mereka sudah sampai ke luar negeri seperti Kroasia, Jepang, Taiwan, Filipina, Thailand, dan sebagainya. “Tapi paling sering ya di Jogja dan Solo. Itu sudah  pasti,” tutur seniman yang menyukai wayang sejak kecil itu.

Gendes berharap akan banyak orang yang semakin peduli dan terbuka pikirannya. Sehingga mereka sadar bahwa sampah bukan persoalan yang mudah untuk dipecahkan. Secara tidak langsung, Wangsa dapat mengajarkan kepada masyarakat tentang adanya 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle).

Wayang yang dibuat oleh komunitas ini dalam bentuk wayang golek. Kini wayang yang sudah mereka buat sudah lebih dai 50 buah. Uniknya, bukan hanya wayangnya saja yang dibuat dari sampah plastik. Tetapi beberapa alat musik seperti  kendang, rebab dan sebagainya, yang digunakan untuk pentas juga dibuat dengan memanfaatkan barang-barang tidak terpakai.

Anggota dari Wangsa tidak hanya dari Jogja dan Solo saja, tetapi juga ada yang dari berbagai bangsa seperti Hungaria, Spanyol, dan beberapa negara lain. Wangsa sangat terbuka bagi siapa saja yang ingin berpartisipasi dalam komunitasnya.  (cr1/laz)