RADAR JOGJA – Satu dari sekian banyak Warga Negara Indonesia (WNI) yang ‘terjebak’ di Tiongkok berasal dari Gunungkidul. Teman mahasiswa seangkatan berencana pulang, namun warga Kecamatan Playen, Arif Nur Rofiq, 20, terkendala biaya di tengah mewabahnya virus corona di Negara Negara Tirai Bambu itu.

Hal tersebut diungkapkan oleh pasangan suami istri (pasutri), Kusyanta dan Maryatun saat ditemui di kediamannya Padukuhan Gembuk, Desa Getas, Kecamatan Playen kemarin (30/1). Dikatakan, anak pertama dari empat bersaudara terakhir komunikasi melalui jaringan telepon dengan keluarga pada Senin (27/1) lalu.“Saya bersyukur, Arif dalam kondisi sehat. Kami lega mendengar kabar itu. Anak saya tinggal di Kota Jiangsu,” kata Kusyanto.

Namun persoalannya, belakangan ini sang buah hati sulit duhubungi. Padahal tiga hari lalu, masih sempat video call. Bercerita mengenai kondisi kesehatan, serta batasan-batasan beraktivitas yang disuarakan pemerintah setempat. “Kami di rumah terus berdoa. Kemudian ikhtiar meminta bantuan kepada pemerintan agar memperhatikan kesehatan anak saya,” ujarnya.

Sebenarnya keluarga ini berharap buah hati segera pulang ke Tanah Air. Terlebih, teman-temannya juga sudah berencana meninggalkan Tiongkok. Hanya saja karena terbentur biaya, keluarga ini tidak bisa berbuat banyak.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari Arif magang di sebuah hotel. Karena saat ini kuliah Arif sedang libur. Beasiswanya hanya untuk kuliah dan asrama. “Sedangkan biaya di luar itu tidak ditanggung beasiswa,” ungkapnya.

Lebih jauh dikatakan, anaknya bisa ke Tiongkok lantaran mendapatkan beasiswa kuliah di Yangzhou Polytechnic Collage, dan baru menempuh pendidikan selama satu tahun. Namun sekarang sedang mewabah virus mematikan itu.

Keluarga itu mengaku belum menghubungi Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dengan alasan tidak memiliki akses. Maryatun, ibu dari Arif, terlihat berupaya tetap tegar dan yakin tangan Tuhan akan membantu keluarganya. (gun/din)