RADAR JOGJA – Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) kembali menyapa Jogjakarta. Bertajuk The Cultural Colors of Wonderfull Indonesia, ajang ini akan berlangsung dari 2 hingga 8 Februari. Tentunya tetap bertempat di kawasan Kampung Ketandan.

Ketua Umum Jogja Chinese Art Culture Centre (JCACC) Hari Setyo menuturkan PBTY kali ini merupakan gelaran ke-15. Even tahunan ini merupakan wujud perayaan Tahun Baru Imlek 2571. Tak hanya itu, ajang ini juga menampilkan beragam seni, budaya hingga beragam kuliner khas.

“PBTY itu tak berbicara tentang budaya Tionghoa semata. Kami juga menampilkan beragam budaya seni akulturasi antara Tionghoa dan Indonesia. Termasuk beragam koleksi peranakan,” jelasnya saat jumpa pers di Kantor Diskominfo dan Persandian Kota Jogja, Kamis (30/1).

Koordinator Humas PBTY Fantoni menambahkan akulturasi terwujud dalam beberapa agenda. Tak hanya pameran koleksi, adapula penampilan kesenian. Seluruhnya tersaji dalam tujuh hari penyelenggaran PBTY ke-15.

Ini pula yang menjadi spirit dari tema The Cultural Colors of Wonderful Indonesia. Uniknya, dalam ajang ini kearifan khas Tiongkok justru tak mendominasi. Fantoni menuturkan nuansa budaya nusantara justru lebih terasa.

“Warna-warni dalam budaya keindahan Indonesia lebih utama. Seni budaya Tionghoa hanya 25 persen, sisanya atau 75 persen adalah budaya nusantara,” ujarnya.

Seremoni PBTY diawali dengan karnaval di kawasan Malioboro hingga Titik Nol Kilometer pada Minggu (2/2). Tajuk yang diusung dalam karnaval ini adalah Malioboro Imlek Carnival. Menampilkan beragam budaya Tiongkok dan Nusantara.

Selama karnaval sejumlah ruas jalan akan ditutup dan dialihkan. Simpang tiga RS PKU Muhammadiyah, simpang empat Titik Nol Kilometer dan simpang empat Gondomanan akan ditutup sejak 17.30. Termasuk ruas jalan Abu Bakar Ali hingga Pasar Kembang.

“Acara ini diawali dari 18.00 hingga 22.30. Karnaval ini sesuai arahan Ngarso Ndalem (Sri Sultan Hamengku Buwono X). Akan menghadirkan beragam potensi seni dan budaya di Indonesia,” katanya.

Pasca pembukaan, seluruh acara terpusat di Kampung Ketandan. Mulai dari panggung utama, panggung hiburan hingga pusat kuliner. Adapula pameran rumah budaya Rumah Kapiten Tan Djing Sing. Rumah ini nantinya menjadi lokasi pameran beragam koleksi peranakan Tionghoa Indonesia.

Koleksi yang dipamerkan berusia ratusan tahun. Seluruhnya merupakan koleksi dari para anggota keempatbelas paguyuban. Mulai dari pakaian, foto, wayang hingga koleksi guci. Seluruhnya menggambarkan perjalanan dan sejarah di Indonesia.

“Benda yang dipamerkan usianya ratusan tahun. Harus barang lama dan asli, tidak boleh repro. Banyak yang kami tolak karena buatan tahun 1940 sampai 1950. Wujud akulturasi budaya sejak jaman Majapahit,” katanya. (dwi/tif)