RADAR JOGJA – Pelanggaran masih ditemui di kawasan Malioboro. Meski diklaim sudah dijaga Satpol PP. Tanpa petugas tetap yang menjaga keamanan dan ketertiban di sana, Jogoboro, Malioboro kembali seperti sebelum penataan.

Di antaranya kembali dipakainya jalur pedestrian untuk tempat parkir. Dari pantauan Radar Jogja, Jumat (31/1) pagi, kini becak maupun becak motor tak hanya memarkirkan kendaraanya di jalur cepat. Beberapa bahkan di jalur pedestrian sisi timue. Ditambah lagi pedagang liar yang juga memenuhi area pedestrian. Terdapat beberapa pedagang liar dengan gerobak menembus pedestrian Jalan Malioboro sisi utara Hotel Inna Garuda.

Warno, salah satu tukang becak yang mangkal di badan jalan mengatakan setiap hari selama 24 jam berada di sana. Untuk menarik penumpang. Ditanya kenapa mangkal di tempat yang terlarang, sebab jika tidak di kawasan Malioboro sulit mencari penumpang. “Nek mboten ten mriki (Malioboro) penumpang angel (kalau nggak di sini penumpang susah),” katanya, kemarin (31/1).

Pria 54 tahun itu menuturkan ketersediaan parkir becak yang berada di sisi jalan Malioboro kapasitasnya sangat terbatas. Terkadang, dia tidak sempat mendapatkan ruang untuk parkir. “Saya saja sering enggak dapat ruang untuk parkir,” ujarnya.

Pria asal Solo itu mengetahui titik-titik yang dilarang untuk mangkal atau berhenti sembarangan. Namun dia terpaksa melakukan itu karena dituntut kebutuhan ekonomi. “Nyambut gawe liyane nandi? Kalau muter-muter cuma capek gak cucok sama penghasilan,” ungkapnya.

Dia pun mengaku merasa diuntungkan selama satu bulan tanpa penjagaan Jogoboro. Karena mencari penumpang lebih mudah di sana tanpa dilarang-larang. Biasanya setiap mangkal sembarangan, petugas selalu menghalau. Satu bulan ini dia merasa bebas tidak ada yang menghalau. “Nek ditertibke kon ngalih yo ngalih, nek ra ditertibke yo ora ngalih. Nek mboten ten Malioboro penumpang angel,” tambah ayah empat anak itu.

Rasmini, pedagang asongan ini pun mengungkakan sadar atas kesalahannya untuk menjajakkan jamunya di kawasan yang sudah dilarang tersebut yaitu pedestrian malioboro. “Tahu (kalau dilarang), tapi ya gimana langganan-langganan saya di sini (malioboro),” kata Ibu paruh baya yang tetap pembelaan jika jualan di Pasar Beringharjo ke selatan itu hanya sebentar untuk menghabiskan daganganya.

Sementara, Kepala UPT Malioboro Ekwanto menuturkan proses pengadaan jasa untuk Jogoboro masih berlangsung. Termasuk menyusun personil Jogoboro harus menyesuaikan karakter yang tepat setiap regu. Satu regu sekitar 30 personil dari total 110 personil. Sebelumnya, dia merencanakan petugas Jogoboro bisa operasional mulai hari ini (1/2). (wia/pra)