RADAR JOGJA – Kepala Dinas Pariwisata DIJ Singgih Rahardjo memastikan novel corona virus (NCOV) tak berdampak signifikan terhadap kunjungan wisata. Berdasarkan data statistik 2018, jumlah wisatawan asal Tiongkok berada di peringkat enam dari kisaran 19 ribu wisatawan dalam satu tahun.

Walau begitu diakui olehnya NCOV menimbulkan keresahan tersendiri. Terlebih World Health Organization (WHO) telah mengeluarkan status darurat global. Berupa kemungkinan penyebaran NCOV ke lingkup yang lebih luas.

“Tentu ada kewaspadaan tersendiri, terutama terkait rasa aman dan nyaman bagi wisatawan. Tapi memang wisatawan asal Tiongkok hanya peringkat enam. Tertinggi dari Malaysia sampai 60 persen,” jelasnya, ditemui usai peresmian Crysis Center 2019NCOV di Terminal B Bandara Internasional Adisutjipto Jogjakarta, Jumat (31/1).

Dia menyambut positif berdirinya crysis center. Dinas Pariwisata DIJ, lanjutnya, menaruh perhatian lebih dengan terlibat dalam posko tersebut. Tujuannya untuk memberikan informasi terbaru baik NCOV maupun destinasi wisata.

Dampak terhadap kunjungan secara nasional belum terlihat. Terlebih saat ini masih dalam masa low season. Artinya angka kunjungan wisatawan memang belum signifikan. Wisatawan, lanjutnya, mulai meningkat pada pertengahan hingga akhir tahun.

“Masih low season sehingga belum dirasakan dampaknya. Angka kunjungan wisata pada medio ini memang turun. Tapi memang ada kewaspadaan, apalagi persebaran NCOV sudah di beberapa negara Asia Tenggara,” ujarnya.

Dokter Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas IV Jogjakarta Meristika memastikan dua bandara di Jogjakarta telah aman. Thermal scanner dan thermometer infrared digital maupun manual telah terpasang. Sehingga bisa memantau kedatangan penumpangan secara real time. 

Pemeriksaan berlangsung person to person. Artinya setiap penumpang diperiksa secara detail. Tak hanya setibanya di bandara tapi juga melalui manifestasi penerbangan. Berupa riwayat perjalan dan laporan kesehatan sebelumnya.

“Kami bagikan health alert card (HAC) kalau ada penumpang yang memiliki gejala atau suspect NCOV. Pengawasan akan diarahkan ke risiko karantia. Berupa rujukan ke RSUP Sardjito. Tapi kami pastikan hingga saat ini belum ada temuan positif,” katanya.

Tak terhenti sampai disini. Proses selanjutnya adalah detailing investigation. Berupa pemeriksaan jarak kursi penumpang terdekat. Meliputi seluruh penjuru dengan jarak dua kursi di setiap sisinya. Langkah ini bertujuan menyisir dugaan NCOV secara tuntas.

“Cek dua kursi ke kanan, kiri, depan dan belakang di pesawat sebagai langkah investigasi lebih lanjut. Kami bagikan HAC, apabila kurang dari 14 hari muncul gejala maka wajib periksa,” tegasnya. 

General Manager PT Angkasa Pura I Bandara Internasional Adisutjipto Jogjakarta Agus Pandu Purnama menuturkan crysis center adalah keterlibatan lintas instansi. Termasuk dua maskapai Air Asia dan Silk Air yang melayani penerbangan dari Malaysia dan Singapura.

Perhatian lebih diberikan kepada dua rute tersebut. Berdasarkan data WHO, dugaan persebaran NCOV telah memasuki Malaysia dan Singapura. Langkah ini setidaknya mampu memberikan rasa aman dan nyaman kepada masyarakat dan penumpang pesawat khususnya.

“Selain crysis center sebenarnya sudah ada petugas di dalam terminal. Berupa scanning dengan thermal scanner maupun infrared thermometer. Seluruh penumpang yang datang ke bandara dipastikan tidak akan lepas dari pengawasan,” jelasnya. (dwi/tif)