RADAR JOGJA – Pemprov DIJ menargetkan bulan ini revitalisasi Pojok Beteng Lor Wetan atau Jokteng Gondomanan mulai dikerjakan. Tapi hingga Jumat (31/1), proses ganti untung belum selesai. Masih ada warga yang bertahan di sana.

Pantauan Radar Jogja, beberapa bangunan telah tertutupi seng hijau. Kecuali,  satu toko yang masih buka. Toko tersebut tidak ditutupi seng. Masih ada penghuni didalamnya. Bangunan yang dahulunya adalah toko  sepeda dan onderdil sepeda lama itu tinggal etalase dan beberapa barang rumah tangga pribadinya.

Seorang perempuan paruh baya berdiri di pintu toko sambil menatap ke luar. Enggan namanya dikorankan, perempuan 70 tahun itu menceritakan alasan dirinya masih tetap tinggal di sana. “Saya menyambut baik program pemerintah untuk revitalisasi,” katanya mengawali pembicaraan.

Namun, niat baiknya itu tidak senasib baik daripada 12 KK lainnya. Yang sudah selesai pembebasan lahan dan ganti untung. Dia telah menyepakati tanda tangan surat kesepakatan pindah dan ganti untung. Pada pertengahan September ke 12 KK lainnya telah menerima surat pelepasan hak. Pencairan per Oktober tahun 2019. Desember telah mengosongkan bangunan dan pindah ke tempat lain. “Sampai sekarang saya belum dibayar karena masih ada yang kurang surat-surat apa gitu,” ujarnya seraya menyebut bahwa ia tidak tahu menahu tentang administrasi karena pengurusannya dilakukan oleh anaknya.

Kabar baru datang ketika dia dipanggil oleh petugas Bank untuk menyelesaikan tanda tangan administrasi. Sekitar 10 hari yang lalu. Namun hingga sekarang ternyata belum juga menerima kabar perkembangan pencairan. “Saya disuruh nunggu dari BPN (Badan Pertanahan Nasional). Nanti kalau sudah dikasih sana (administrasi) baru di tandatangan lagi, saya nunggu lagi,” jelasnya.

Dia menunggu surat pelepasan dari BPN DIJ yang telah ditandatangani. Agar kemudian resmi ahli waris telah melepaskan bangunan yang sudah berdiri sejak 1938 silam itu ke pemerintah. Setelah itu proses pencairan. “Kami saja ndak tahu belum cari rumah, dananya belum ada. Setelah itu ndak tahu juga berapa lama dikasih waktu pindah,” ucapnya.

Sudah tiga bulan lamanya dia bersama adik-adiknya tidak berjualan lagi. Sejak adanya program pemerintah ini, semua  alat-alat onderdil sepeda lama diberikan kepada orang-orang maupun keluarganya. “Saya sampai bingung, pengennya cuma gek selesai bisa hidup tentrem,” harapnya.

Sementara, Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang DIJ, Krido Suprayitno belum bisa dikonfirmasi melalui telepon maupun chat via whatsap oleh Radar Jogja terkait satu ahli waris yang belum selesai pembebasan lahan tersebut.

Namun sebelumnya, dia membenarkan bahwa satu warga yang belum menerima ganti untung itu karena terdapat berkas-berkas administrasi yang dimiliki warga tersebut belum lengkap. Katanya, dia menunggu sampai batas waktu akhir Desember lalu dan pembayaran akan diselesaikan pada tahun 2020. “Ya akan kami selesaikan di 2020,” jelasnya singkat. (wia/pra)