FILM ini dibintangi oleh segudang aktris top, sebut saja Saoirse Ronan, Emma Watson, Meryl Streep, Laura Dern, dan lainnya. film ini menampilkan narasi dialogis paling ramai. Diangkat dari sebuah novel yang telah diadaptasi ke dalam format film sebanyak lebih dari 3x, film ini spertinya masih terasa nyaman untuk disimak karena interpretasi tiap pengembangan skripnya pasti beragam dan modal karakterisasi di dalamnya sangatlah kuat.

Karakterisasi dalam film ini adalah koentji. March bersaudari berjumlah empat, mereka Meg, Jo, Beth, dan Amy. Masing-masing punya cita-cita dan pandangan hidup yang berbeda dalam kehidupan sebuah keluarga sederhana di era Perang Sipil AS. Film ini menitikberatkan narasinya kepada Jo, yang mandiri, berpendirian teguh, dan cenderung berpandangan feminis.

Jo yang seorang penulis dan menghasilkan uang dari tulisannya untuk keluarga hampir selalu dapat diandalkan semua kalangan. Saudari lainnya tampak bergantung pada dirinya untuk banyak hal. Hanya, percekcokan antarsaudari tentu saja tak terhindarkan. Lebih-lebih terhadap saudarinya, Amy, yang hobi merengek cinta-cintaan. Interaksi antarsaudari inilah yang membuat film ini seru untuk disimak.

Alur film ini berjalan maju-mundur. Awalnya sedikit membingungkan karena hanya sekali penonton diberi tahu tentang lini masanya yakni 7 tahun sebelumnya. Setelah itu,tanpa penanda waktu film bolak-balik semaunya sendiri.

Tokoh dalam film ini diperankan secara baik oleh masing-masing aktris. Hal ini penting karena jantung dari plot film ini terletak di situ, mengingat film ini tak berangkat dari satu konflik atau persoalan yang spesifik. Ia menyoroti dinamika hubungan antarsaudari.

Pilihan si strada Greta Gerwig untuk menonjolkan sosok Jo di antara karakter saudari  yang lainnya sangat kentara sekali. Greta menjadikannya sebagai corong dalam menyuarakan prinsip perempuan yang berdaya dan menentang konstruksi patriarkal. Keputusan untuk lebih menonjolkan ini tentu terasa relevan bagi banyak penonton masa kini, sekaligus jadi jembatan dalam memahami kehidupan dan mentalitas perempuan AS di masa itu.

Film ini sangat kuat menyuarakan keberagaman pandangan perempuan yang kompleksitas friksinya tak kalah menarik untuk disuarakan dibanding film-film perang yang didominasi laki-laki. Film ini berpotensi menjadi film naratif tergurih tahun 2019. (ila)

*Penulis adalah penggemar film dalam negeri dan penikmat The Chemical Brothers yang bermukim di Jogja Utara