RADAR JOGJA – Ribuan orang memadati kawasan sepanjang Malioboro hingga Titik Nol Kilometer menyaksikan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) XV 2020. Acara ini menampilkan keindahan kolaborasi budaya Tiongkok dan Nusantara. 

Wakil Gubernur DIJ Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Paku Alam (PA) X berpesan agar gelaran ini tetap lestari. Tak hanya sebagai ajang unjuk kesenian tapi juga pemererat keberagaman di Jogjakarta. Terutama dengan terlibatnya beragam seni budaya dari Nusantara.

“Tak hanya integrasi sosial budaya semata. Lebih lanjut juga dalam perspektif ekonomi. Berharap agar even budaya ini meluas dan berkontribusi kepada keberagaman dan keindahan Jogjakarta,” pesannya.

Kali ini PBTY XV mengusung tema The Cultural Colors of Wonderfull Indonesia. Tak sekadar jargon, tema ini terwujud dalam karnaval yang berlangsung sejak sore hari. Tak hanya keindahan liukan liong naga dan barongsai, adapula kolaborasi budaya nusantara. 

Karnaval diawali dengan sangat meriah. Para naga liong berbaris di sepanjang kawasan Malioboro. Naga yang berasal dari berbagai kelompok ini menampilkan keindahan gerak dan cerita. Adapula barongsai dari Hoop Hap Hwee Jogjakarta.

“Sesuai temanya, The Cultural Colors of Wonderfull Indonesia, menghadirkan ragam keindahan budaya di Indonesia. Tak hanya budaya Tionghoa tapi beragam budaya Nusantara,” kata Ketua Umum PBTY XV Tri Kirana Muslidatun.

Seni nusantara nampak dari hadirnya Reog dari Manggolo Mudo Pawargo Jogjakarta. Lalu hadir pula flashmob Beksan Wanara dari Sido Muncul. Seluruhnya berkolaborasi dalam barisan karnaval PBTY XV 2020.

Dalam barisan karnaval nampak pula bela diri Wushu. Adapula beragam tarian dari lintas komunitas. Ada tarian Long Di Gu Xiang dari Paguyuban Bhakti Putera. Tarian Kungfu Yoga dari HAKKA, tarian tradisi Hokya hingga tarian Tibet oleh Fuqing Jogjakarta.

“Adapula maskot shio Tikus dan Koko Cici Jogja 2020. Juga menghadirkan Dewa Dewi JCACC (Jogja Chinese Arta Culture Center),” ujarnya.

Gelaran PBTY XV berlangsung dari 2 hingga 8 Februari. Tetap bertempat di kawasan Kampung Ketandan. Even tahunan ini merupakan wujud perayaan Tahun Baru Imlek 2571. 

Pasca pembukaan, seluruh acara terpusat di Kampung Ketandan. Mulai dari panggung utama, panggung hiburan hingga pusat kuliner. Adapula pameran rumah budaya Rumah Kapiten Tan Djing Sing. Rumah ini nantinya menjadi lokasi pameran beragam koleksi peranakan Tionghoa Indonesia.

Koleksi yang dipamerkan berusia ratusan tahun. Seluruhnya merupakan koleksi dari para anggota keempatbelas paguyuban. Mulai dari pakaian, foto, wayang hingga koleksi guci. Seluruhnya menggambarkan perjalanan dan sejarah di Indonesia.

“Adanya acara ini dapat membuktikan bahwa Jogjakarta itu benar-benar menghayati semangat city of tolerant. Bagaimana beragam kesenian budaya saling bersanding dan terlihat indah,” ujarnya. (dwi/tif)